Arus balik Lebaran kerap dianggap lebih ringan dibandingkan saat mudik. Namun, kondisi pengemudi justru tidak selalu prima. Setelah menjalani rangkaian aktivitas seperti silaturahmi, perjalanan ke berbagai tempat, hingga kurangnya waktu istirahat selama libur Lebaran, banyak pemudik kembali ke kota dalam kondisi fisik dan mental yang menurun. Menurut Sony Susmana, Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), kondisi ini membuat risiko kelelahan meningkat saat arus balik, terlebih bagi pengemudi yang tetap menjalankan ibadah puasa. “Setelah hari-hari sibuk Lebaran, tubuh itu sebenarnya belum pulih sepenuhnya. Ditambah perjalanan jauh, macet, dan puasa, potensi kelelahan jadi sangat tinggi,” kata Sony kepada Kompas.com, Senin (23/3/2026). Sony menjelaskan, fatigue saat berkendara tidak selalu ditandai dengan rasa kantuk. Dalam banyak kasus, penurunan fungsi pancaindra seperti penglihatan, pendengaran, hingga konsentrasi terjadi secara bertahap tanpa disadari oleh pengemudi. Ia menyarankan agar pengemudi tidak memaksakan diri berkendara terlalu lama. Idealnya, durasi berkendara dibatasi maksimal dua hingga tiga jam, kemudian diselingi dengan waktu istirahat singkat sekitar 15 hingga 30 menit untuk memulihkan kondisi tubuh. Selain itu, posisi duduk yang terlalu nyaman juga bisa menjadi jebakan. Banyak pengemudi merasa santai sehingga lupa waktu dan menunda istirahat, padahal tubuh sebenarnya sudah menunjukkan tanda-tanda kelelahan. “Pengemudi harus peka. Jangan tunggu mengantuk. Kalau badan mulai pegal atau fokus menurun, itu sudah sinyal untuk berhenti,” ujar Sony. Ilustrasi mengantuk saat mengemudi. Sony juga mengingatkan pentingnya memilih rute perjalanan yang memiliki fasilitas istirahat yang memadai. Rest area atau tempat singgah yang aman dan nyaman bisa membantu pengemudi memulihkan kondisi sebelum melanjutkan perjalanan. Namun, ia menekankan bahwa berhenti di rest area tidak cukup hanya sekadar parkir atau duduk santai. Pengemudi perlu memanfaatkan waktu istirahat secara efektif agar tubuh benar-benar kembali segar. Beberapa aktivitas yang disarankan antara lain melakukan peregangan ringan selama lima menit untuk merangsang kembali fungsi otot, kemudian menenangkan pikiran melalui ibadah atau meditasi singkat, serta memberi waktu bagi pancaindra untuk kembali optimal. Dengan kondisi tubuh yang lebih segar, pengemudi diharapkan bisa kembali fokus saat melanjutkan perjalanan. Hal ini penting mengingat arus balik identik dengan volume kendaraan tinggi yang membutuhkan konsentrasi ekstra di jalan. Sebagai penutup, Sony menegaskan bahwa perjalanan arus balik seharusnya tidak hanya soal cepat sampai tujuan, tetapi juga bagaimana menjaga keselamatan sepanjang perjalanan. “Perjalanan itu harus dinikmati. Kalau tubuh dipaksakan, justru risikonya lebih besar. Lebih baik berhenti sejenak, daripada memaksakan diri,” kata Sony. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang