Rekayasa lalu lintas seperti contraflow di jalan tol memang membantu mengurai kemacetan. Lajur tol yang semula cuma ada tiga sampai empat, bisa ditambah lagi, mengambil di jalur berseberangan. Cuma menggunakan contraflow juga ada bahayanya. Pengemudi yang tidak terbiasa, sebaiknya tidak masuk lajur tambahan tersebut. Jusri Pulubuhu, Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) menjelaskan, rekayasa lalu lintas contraflow sebaiknya dihindari. Risiko terjadi kecelakaan bisa meningkat. Contra flow di ruas jalan tol Jakarta - Cikampek Km 57, Kamis (25/12/2025). "Karena pengemudi yang ada pada saat itu juga dalam kondisi yang capek. Mereka juga tidak terbiasa berada di lajur tersebut," kata Jusri kepada Kompas.com, Minggu (4/1/2026). Buat yang tidak terbiasa, pengemudi di lajur contraflow tidak bisa melihat rambu-rambu karena berada di lajur yang berlawanan. Selain itu, cuma tersedia satu lajur, sisanya mengarah yang berbeda, itu meningkatkan bahaya. "Rest area juga mereka (pengguna contraflow) tidak bisa masuk. Karena selama dia di contraflow, rest areanya ada di sebelah kanan," kata Jusri. Jusri menyarankan, kalau tidak terbiasa, lebih baik menghindari contraflow. Hal ini bisa mengurangi risiko kecelakaan, mengingat saat pulang libur Nataru, kondisi fisik biasanya sedang kelelahan. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang