Saat arus mudik Lebaran, volume kendaraan di jalan tol biasanya meningkat signifikan. Untuk mengurai kepadatan, pemerintah bersama kepolisian kerap menerapkan rekayasa lalu lintas, salah satunya contraflow. Contraflow merupakan pengaturan lalu lintas dengan memanfaatkan sebagian lajur dari arah berlawanan untuk digunakan kendaraan dari arah yang lebih padat. Dengan cara ini, kapasitas jalur menuju arah tertentu menjadi lebih besar sehingga arus kendaraan dapat bergerak lebih lancar. Meski demikian, pengemudi tetap perlu meningkatkan kewaspadaan ketika melintas di jalur contraflow. Contra flow di ruas jalan tol Jakarta - Cikampek Km 57, Kamis (25/12/2025). Founder Jakarta Defensive Driving Consulting Jusri Pulubuhu mengingatkan bahwa jalur tersebut memiliki risiko kecelakaan yang lebih tinggi dibandingkan jalur normal. "Untuk contraflow, pengendara harus lebih berhati-hati. Saat mudik mereka biasanya akan menggunakan jalur B di tol yang dialihkan untuk contraflow," ujar Jusri kepada Kompas.com, Minggu (8/3/2026). Menurut dia, posisi kendaraan di jalur contraflow berada cukup dekat dengan arus kendaraan dari arah berlawanan. "Di jalur tersebut, risiko tabrakan berhadapan atau yang sering disebut tabrakan adu kambing cukup besar, selain risiko tertabrak dari belakang," kata Jusri. Atas diskresi Kepolisian, Jasa Marga memberlakukan skema lalu lintas lawan arus atau contraflow dari Km 44+400 hingga Km 46+400 di ruas Tol Jagorawi arah Puncak, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (31/5/2025) pagi Ia menjelaskan, kondisi tersebut terjadi karena tidak semua lajur pada arah berlawanan ditutup saat contraflow diberlakukan. "Kenapa bisa terjadi? Karena pada jalan tol tiga lajur, jika satu lajur dipakai untuk contraflow di jalur B, maka dua lajur lainnya masih digunakan oleh kendaraan dari arah berlawanan sesuai arus normal," ujarnya. Karena itu, pengemudi perlu memahami cara melintas di jalur contraflow dengan aman, terutama saat perjalanan mudik Lebaran yang biasanya berlangsung dalam kondisi lalu lintas padat. Kepolisian dan Jasa Marga kembali memberlakukan rekayasa lalu lintas lawan arus atau contraflow dari Kilometer 44+500 sampai Kilometer 46+500 Ruas Tol Jagorawi arah Puncak, Bogor, Jawa Barat, Kamis (3/4/2025). 1. Pelajari Sebelum memulai perjalanan, pengemudi sebaiknya sudah mengetahui jadwal dan lokasi ruas tol yang menerapkan contraflow. Informasi tersebut biasanya disampaikan melalui media sosial kepolisian atau operator jalan tol. Selain itu, pengendara juga perlu memperhatikan rambu-rambu di sepanjang jalan yang menandai titik awal pemberlakuan contraflow. 2. Tidak semua pintu tol Saat contraflow diberlakukan, tidak semua gerbang tol di sepanjang ruas jalan dapat digunakan untuk keluar. Umumnya jalur contraflow hanya memiliki satu akses masuk dan satu akses keluar. Artinya, pengemudi yang sudah masuk jalur tersebut harus melanjutkan perjalanan hingga titik akhir contraflow untuk menemukan gerbang keluar tol. 3. Bersiap di lajur kanan Pengemudi juga perlu mempersiapkan posisi kendaraan sebelum memasuki jalur contraflow. Biasanya akses masuk contraflow berada di lajur kanan. Karena itu, pengemudi disarankan mulai berpindah ke lajur kanan sekitar dua kilometer sebelum titik masuk. Hal ini dilakukan agar tidak melakukan manuver mendadak yang berpotensi membahayakan kendaraan lain. Akses jalan tol dari menuju Gerbang Pintu Tol Belawan terkena banjir pada Jumat (28/11/2025). Akibatnya, polisi menerapkan rekayasa lalu lintas contraflow. 4. Jaga kecepatan Saat melintas di jalur contraflow, pengemudi sebaiknya menjaga kecepatan kendaraan agar tetap stabil. Kecepatan yang terlalu rendah dapat menghambat arus lalu lintas, sementara kecepatan yang terlalu tinggi berisiko membahayakan karena kendaraan berada dekat dengan arus kendaraan dari arah berlawanan. Secara umum, kecepatan sekitar 60 km per jam dinilai cukup aman saat melintas di jalur contraflow. 5. Jaga jarak aman Selain mengatur kecepatan, pengemudi juga harus menjaga jarak aman dengan kendaraan di depannya. Salah satu cara yang dapat diterapkan adalah teori tiga detik, yaitu memberikan jeda waktu sekitar tiga detik dengan kendaraan di depan untuk mengantisipasi pengereman mendadak. 6. Pastikan kondisi prima Sebelum memulai perjalanan mudik, pengemudi juga perlu memastikan kondisi tubuh tetap fit. Selain itu, kendaraan yang digunakan juga harus dipastikan dalam kondisi baik agar perjalanan dapat berlangsung dengan aman dan nyaman. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang