JAKARTA, KOMPAS.com – Teknologi pengisian daya atau casan mobil listrik terus berkembang. Saat ini banyak stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) yang sudah menawarkan fast charging, ultra fast charging, hingga flash charging dengan daya sangat besar. Namun pada praktiknya, tidak semua kendaraan listrik bisa memanfaatkan kapasitas tersebut secara maksimal. Sebab setiap mobil memiliki batas kemampuan penerimaan daya yang berbeda. Sebagai contoh, ada pengisian tipe ultra fast charging yang mampu menyuplai daya hingga 360 kW. Fasilitas SPKLU rest area KM 43 Akan tetapi, jika mobil hanya mampu menerima daya maksimal 50 kW, maka kapasitas besar dari charger tersebut tidak bisa digunakan sepenuhnya. Direktur Utama Charge+ Indonesia, Anthony Utomo, mengatakan kondisi tersebut memang sering terjadi karena kemampuan pengisian daya sudah ditentukan oleh masing-masing pabrikan kendaraan. “Kami mendorong agar adanya shared infrastruktur, atau infrastruktur yang untuk bisa dinikmati masyarakat secara publik. Nah teknologi charging kami itu, mereka tuh bisa membagi daya,” kata Anthony, kepada Kompas.com, saat peresmian SPKLU Urban Hub di Palmerah, Jakarta, Jumat (13/3/2026). Menurut dia, sistem tersebut memungkinkan distribusi listrik yang lebih fleksibel pada satu lokasi pengisian. “Jadi misalnya di lot 1, penggunanya itu adalah kendaraan dengan kapasitas kecil. Maka lot sebelahnya, dia bisa memasok dengan kapasitas yang besar, dengan menggunakan pasokan dari PLN yang sama,” ujar Anthony. Ia menjelaskan konsep tersebut berbeda dengan sebagian stasiun pengisian konvensional yang masih menggunakan sistem statis. SPKLU Zora berpendingin cairan pertama di Indonesia hadir di Serpong, tawarkan pengisian ultra cepat hingga 400 kW dengan teknologi split charging. “Charging station pada umumnya hanya statis. Jadi pada saat mereka terkunci satu charger untuk kapasitas yang kecil, yang lain tidak bisa menikmati sisanya,” kata dia. Meski demikian, Anthony menegaskan bahwa keterbatasan penerimaan daya pada mobil listrik merupakan bagian dari desain kendaraan yang sudah diperhitungkan oleh pabrikan. “Memang ada keterbatasan dari tiap kendaraan yang harus kita perhatikan. Tetapi itu adalah fitur dari masing-masing pabrik yang sudah didesain berdasarkan faktor keekonomisan, kemampuan pasok baterai, dan keberlangsungan penggunaan jangka panjang,” ujarnya. Di sisi lain, perkembangan teknologi baterai diperkirakan akan terus meningkatkan kemampuan pengisian daya kendaraan listrik di masa depan. “Teknologi ini kan berkembang terus. Semakin tahun, baterai itu akan semakin keekonomisannya membaik, lebih murah, lebih terjangkau,” kata Anthony. Karena itu, pihaknya menyiapkan infrastruktur pengisian dengan kapasitas besar agar tetap relevan dengan perkembangan teknologi kendaraan listrik. “Dengan seiring bertambahnya teknologi, kita mau agar SPKLU ini, kalau kami sebut mobility hub, tetap bisa relevan dengan kebutuhan dan penerimaan daya pasok yang semakin meningkat setiap tahun,” kata Anthony. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang