Ilustrasi baterai mobil listrik. GULIR UNTUK LANJUT BACA Bagi pemula, perbedaan utama antara baterai sodium dan lithium sebenarnya ada pada bahan bakunya. Lithium merupakan logam yang terbatas dan harganya bisa naik turun, sementara sodium jauh lebih melimpah di alam dan lebih mudah didapat. Artinya, secara teori, biaya produksi baterai sodium bisa lebih murah.Selain soal biaya, keunggulan lain dari baterai sodium-ion adalah kemampuannya bekerja lebih stabil di suhu dingin. Ini menjadi nilai tambah, terutama untuk penggunaan di negara dengan musim dingin ekstrem. Pada kondisi tersebut, baterai lithium biasanya mengalami penurunan performa.Meski begitu, baterai sodium bukan tanpa kekurangan. Salah satu kelemahan utamanya adalah jarak tempuh yang masih lebih pendek dibanding lithium. Saat ini, mobil listrik dengan baterai sodium diperkirakan hanya mampu menempuh sekitar 300 hingga 350 kilometer dalam sekali pengisian daya.Sebagai perbandingan, mobil listrik dengan baterai lithium bisa mencapai jarak 400 hingga 600 kilometer, tergantung tipe dan kapasitas baterainya. Artinya, untuk penggunaan jarak jauh, lithium masih lebih unggul.Namun, bukan berarti baterai sodium tidak punya masa depan. Teknologi ini justru dinilai cocok untuk mobil listrik dengan harga terjangkau atau penggunaan dalam kota. Dengan jarak tempuh yang cukup untuk kebutuhan harian, biaya produksi yang lebih rendah bisa membuat harga mobil listrik menjadi lebih murah dan lebih mudah dijangkau masyarakat.Selain itu, penggunaan sodium juga dapat mengurangi ketergantungan industri terhadap lithium. Dalam beberapa tahun terakhir, harga lithium sempat melonjak tajam, yang berdampak pada naiknya harga baterai dan mobil listrik secara keseluruhan.Dengan adanya alternatif seperti sodium, produsen bisa memiliki pilihan lain agar pasokan bahan baku lebih stabil. Hal ini penting untuk menjaga harga mobil listrik tetap kompetitif di masa depan.Beberapa perusahaan besar di industri baterai dan otomotif juga mulai serius mengembangkan teknologi ini. Mereka melihat baterai sodium sebagai pelengkap, bukan pengganti total dari lithium. Artinya, ke depan kemungkinan akan ada berbagai jenis baterai yang digunakan sesuai kebutuhan kendaraan.Meski masih dalam tahap pengembangan, sejumlah model mobil listrik dengan baterai sodium diperkirakan mulai dipasarkan dalam waktu dekat. Tahun 2026 bahkan disebut-sebut sebagai awal dari era komersialisasi teknologi ini. ADVERTISEMENT GULIR UNTUK LANJUT BACA Bagi konsumen, kehadiran baterai sodium bisa menjadi kabar baik. Pilihan mobil listrik akan semakin beragam, baik dari segi harga maupun spesifikasi. Pengguna bisa memilih kendaraan sesuai kebutuhan, apakah untuk jarak jauh atau penggunaan harian di dalam kota.Pada akhirnya, perkembangan ini menunjukkan bahwa teknologi mobil listrik terus berkembang. Tidak hanya bergantung pada satu jenis baterai, industri otomotif kini bergerak menuju solusi yang lebih fleksibel, efisien, dan terjangkau bagi lebih banyak orang.