Produsen baterai terbesar dunia asal China, CATL, bersiap memproduksi massal baterai sodium ion mulai tahun ini. Baterai ini digadang menjadi alternatif baru bagi industri kendaraan listrik karena menawarkan biaya produksi lebih rendah dengan bahan baku yang lebih melimpah dibandingkan baterai lithium ion konvensional. Kepala Ilmuwan CATL sekaligus anggota Akademi Teknik China, Wu Kai, mengatakan hambatan utama dalam proses manufaktur baterai sodium ion kini telah berhasil diatasi. Dilansir dari Carnewschina, menurut Wu Kai, saat ini perusahaan siap membawa teknologi tersebut ke tahap produksi massal. Shenxing generasi kedua, baterai CATL tercanggih saat ini Berdasarkan peta jalan perusahaan, baterai sodium ion tidak hanya akan digunakan pada mobil penumpang, tetapi juga kendaraan komersial, jaringan penukaran baterai (battery swapping), hingga sistem penyimpanan energi. Langkah ini dilakukan CATL untuk mengurangi ketergantungan pada bahan baku lithium yang harganya cenderung fluktuatif. Sebab sodium atau natrium tersedia dalam jumlah melimpah dan lebih mudah diperoleh sehingga berpotensi menekan biaya produksi baterai. Bidik Jarak Tempuh 600 Km Percepatan pengembangan baterai sodium ion dilakukan setelah CATL mengamankan kontrak pasokan sebesar 60 GWh, yang disebut sebagai pesanan baterai sodium ion terbesar di dunia. Ilustrasi Pengisian Daya EV (Jakub Zerdicki/Pexels) Pada tahap awal, teknologi ini akan digunakan untuk kendaraan listrik berharga terjangkau serta sistem penyimpanan energi. Namun, CATL juga tengah mengembangkan generasi baru baterai sodium ion dengan kepadatan energi lebih tinggi. Targetnya cukup ambisius. Perusahaan menargetkan baterai sodium-ion generasi berikutnya mampu memberikan jarak tempuh hingga 600 kilometer dalam sekali pengisian daya. Jika berhasil direalisasikan, performa tersebut akan membuat baterai sodium ion mampu bersaing langsung dengan baterai lithium iron phosphate (LFP), yang saat ini menjadi salah satu teknologi paling banyak digunakan pada kendaraan listrik. Baterai Masa Depan Selain sodium ion, CATL juga mulai mengarahkan penelitian jangka panjangnya pada teknologi baterai lithium air. Baterai CATL dengan teknologi terbaru yang diklaim memiliki masa pakai hingga 15 tahun dan 1,5 juta kilometer Secara sederhana, teknologi ini menggunakan lithium metal sebagai elektroda negatif dan oksigen dari udara sebagai bagian dari proses reaksi kimia untuk menghasilkan energi. Karena tidak memerlukan penyimpanan oksigen di dalam baterai, bobot sistem dapat dibuat lebih ringan dibandingkan baterai konvensional. Keunggulan utama lithium air adalah potensi kepadatan energinya yang jauh lebih tinggi dibandingkan baterai lithium ion maupun solid state yang saat ini masih dalam tahap pengembangan. Karena itu, banyak pihak menilai teknologi lithium-air berpotensi menjadi generasi penerus baterai kendaraan listrik di masa depan, meski masih membutuhkan waktu panjang untuk dikomersialkan. Shenxing generasi kedua, baterai CATL tercanggih saat ini Pemasok Baterai Saat ini, baterai CATL digunakan oleh berbagai pabrikan otomotif besar dunia. Di antaranya adalah Tesla, BMW, Mercedes-Benz, Volkswagen, Ford, Volvo Cars, hingga grup Stellantis. Selain itu, sejumlah merek kendaraan listrik asal China seperti Nio, XPeng, Li Auto, Zeekr, hingga Geely Auto ditengarai juga menjadi pelanggan CATL. Data China EV DataTracker menunjukkan bahwa pada April 2026, CATL memasok baterai kendaraan listrik sebanyak 29,06 GWh di pasar China dengan pangsa pasar mencapai 46,6 persen. Dari total tersebut, sekitar 19,53 GWh berasal dari baterai LFP, sementara 9,53 GWh merupakan baterai nickel manganese cobalt (NMC). KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang