Industri komponen otomotif nasional mulai melirik pengembangan aki berbasis sodium sebagai alternatif teknologi penyimpanan energi selain lithium. Langkah tersebut muncul di tengah upaya mencari solusi baterai yang lebih terjangkau dan berkelanjutan. Salah satu pelaku industri yang mengkaji teknologi tersebut adalah PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA). Head of Business Development DRMA Eko Maryanto mengatakan, baterai sodium berpotensi menjadi teknologi masa depan, khususnya untuk menggantikan aki konvensional berbasis timbal. Diskusi baterai lithium “Posisinya memang masih di bawah lithium, tapi lebih baik dibanding lead acid. Untuk aki, sebenarnya sodium ini yang paling cocok,” ujar Eko saat ditemui di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Sabtu (7/2/2026). Teknologi Mahal Meski memiliki potensi, pengembangan baterai sodium di dalam negeri masih menghadapi kendala, terutama dari sisi biaya dan kesiapan teknologi. “Sekarang teknologinya masih mahal. Energinya juga lebih rendah dibanding LFP, tapi harganya justru masih lebih tinggi,” kata Eko. Menurut dia, kondisi tersebut membuat produk berbasis sodium belum bisa diterima secara luas oleh pasar. “Kalau melihat harga sekarang, memang belum bisa diterima,” ujarnya. Eko menambahkan, industri baterai nasional saat ini masih didominasi teknologi lithium, terutama lithium iron phosphate (LFP), yang dinilai lebih stabil dan telah memiliki ekosistem produksi yang lebih matang. Meski demikian, ia menilai pengembangan teknologi alternatif tetap diperlukan untuk mengantisipasi keterbatasan bahan baku lithium di masa depan. “Ke depan, industri tidak bisa hanya bergantung pada satu teknologi. Perlu ada pilihan lain supaya lebih fleksibel,” kata Eko. Upaya tersebut sejalan dengan dorongan pemerintah untuk memperkuat industri baterai nasional dan mengurangi ketergantungan impor komponen strategis. Ilustrasi baterai sodium-ion Alternatif Baru di Tengah Keterbatasan Lithium ion mulai muncul sebagai alternatif bagi kendaraan listrik di tengah naiknya harga dan terbatasnya pasokan bahan baku lithium. Sejumlah produsen global kini menguji teknologi ini untuk penggunaan pada kendaraan penumpang. Dikutip Gimozmochina, teknologi sodium-ion bekerja dengan prinsip serupa baterai lithium-ion, tetapi menggunakan natrium sebagai bahan utama. Material ini lebih melimpah di alam dan tidak bergantung pada mineral langka, sehingga dinilai lebih berkelanjutan. Dari sisi keamanan, baterai sodium-ion lebih stabil secara kimia dan memiliki risiko kebakaran yang lebih rendah. Dalam berbagai pengujian, baterai ini diklaim tetap aman meski mengalami tekanan ekstrem. Keunggulan lain terdapat pada kinerja di suhu rendah. Saat baterai lithium cenderung kehilangan kapasitas di kondisi dingin, sodium-ion relatif lebih stabil. Daya tahannya juga dinilai cukup baik karena memiliki siklus pengisian yang panjang. Pengembangan teknologi pengisian cepat pun terus dilakukan untuk meningkatkan daya saing. Meski belum menggantikan lithium-ion sepenuhnya, hasil uji coba menunjukkan perkembangan yang positif. Produsen baterai asal China, CATL, telah menguji sodium-ion pada mobil penumpang setelah sebelumnya digunakan pada kendaraan komersial. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang