BYD menegaskan komitmennya untuk terus menggunakan dan mengembangkan baterai berjenis lithium iron phosphate (LFP) pada lini kendaraan listriknya. General Manager Brand and Public Relations BYD, Li Yunfei, menyoroti isu keamanan baterai kendaraan listrik yang sering muncul di internet. Ia mengatakan, banyak laporan kebakaran pada mobil listrik dengan baterai non-LFP yang membuat masyarakat menganggap semua baterai EV berbahaya. BYD Seal 05 DM-i Padahal, menurutnya, banyak konsumen belum bisa membedakan antara baterai LFP dan baterai lithium ternary (nikkel-kobalt-mangan/NCM). Karena itu, BYD berkomitmen untuk menjadikan LFP sebagai standar utama di semua modelnya, baik yang sudah ada maupun yang akan datang. “Keamanan adalah hal mendasar. Keamanan adalah kemewahan tertinggi. Keamanan adalah tujuan utama dari setiap produk,” ujar Li, dikutip dari Carnerschina, Sabtu (8/11/2025). Teruji di Armada Bus Listrik Li mencontohkan keberhasilan elektrifikasi armada bus umum di China selama 15 tahun terakhir sebagai bukti nyata keandalan baterai LFP. BYD Atto 1 Menurut Li, penggunaan baterai jenis ini terbukti mampu memberikan tingkat keamanan tinggi bahkan dalam penggunaan ekstrem. “Penggunaan LFP secara luas pada bus listrik terbukti mampu mencegah terjadinya kebakaran serius, bahkan ketika mengangkut puluhan penumpang,” jelasnya. Li menambahkan, alasan utama industri otomotif China memilih baterai LFP untuk bus listrik adalah faktor keamanan, dan kini hal tersebut juga menjadi acuan bagi pengembangan kendaraan pribadi. Hasil tes tabrak BYD Atto 1, raih lima bintang Euro NCAP Dominasi di Pasar China Sepanjang Januari hingga September 2025, pemasangan baterai LFP di China tercatat mencapai 493,9 GWh, naik 42,5 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini membuat LFP menguasai lebih dari 80 persen pasar baterai kendaraan listrik di negara tersebut, menegaskan dominasinya di industri EV. Li menjelaskan, selain lebih aman, baterai LFP juga memiliki usia pakai lebih panjang. Umumnya, baterai LFP mampu bertahan hingga 3.500 kali pengisian dan pengosongan, sedangkan baterai litium ternary hanya sekitar 2.000 kali. Mobil listrik bekas taksi BYD e6. Selain itu, stabilitas termal LFP juga lebih baik, dengan suhu pelarian termal (thermal runaway) mencapai di atas 500 derajat Celsius, dibandingkan kurang dari 300 derajat Celsius pada baterai litium ternary. Meski beberapa produsen masih menggunakan baterai litium ternary untuk mengejar jarak tempuh lebih jauh, Li menegaskan bahwa keselamatan harus tetap menjadi standar utama industri kendaraan listrik. “Sebagai salah satu pemain utama di sektor ini, kami berharap semua pihak bisa berkontribusi positif dan menempatkan keselamatan sebagai dasar dari setiap inovasi,” kata Li. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.