Toyota memastikan seluruh model kendaraan elektrifikasi yang dipasarkan di Indonesia, termasuk jajaran terbarunya, Vios Hybrid EV, Yaris Cross Hybrid EV, hingga Alphard XE Hybrid EV, menggunakan baterai berbasis nikel. Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Nandi Julyanto mengatakan, langkah tersebut merupakan bentuk dukungan perusahaan terhadap program hilirisasi mineral yang dicanangkan pemerintah RI. Menurut Nandi, pemanfaatan baterai berbasis nikel juga tidak terlepas dari posisi Indonesia sebagai salah satu negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia, meski teknologi tersebut tetap memiliki kelebihan dan kekurangan. Baterai pada Toyota Veloz Hybrid EV Baterai basis nikel “Semua jenis baterai yang digunakan Toyota berbasis nikel, karena Indonesia punya sumber daya nikel paling besar,” kata Nandi saat ditemui di pameran Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (5/2/2026). Ia menjelaskan, perbedaan jenis baterai seperti NiMH (Nickel-Metal Hydride) maupun NMC (Nickel Manganese Cobalt) pada dasarnya terletak pada komposisi kandungan nikelnya. Namun, seluruh baterai tersebut tetap memanfaatkan material nikel sebagai komponen utama. “Semua baterai punya keunggulan dan kekurangan. Menggunakan nikel memang harganya lebih tinggi dibandingkan yang tidak, tetapi dari sisi durabilitas lebih baik,” ujarnya. Saat ini, teknologi baterai berbasis nikel digunakan pada seluruh lini elektrifikasi Toyota di Indonesia, mulai dari kendaraan listrik murni hingga hybrid, seperti Toyota bZ4X, Kijang Innova Zenix Hybrid, Veloz Hybrid, dan Yaris Cross Hybrid. “Semua sel baterainya sama, hanya berbeda jumlah sel yang digunakan,” kata Nandi. Ia menambahkan, perbedaan kapasitas baterai disesuaikan dengan karakter masing-masing kendaraan. Mobil listrik murni seperti bZ4X membutuhkan kapasitas baterai besar, mencapai sekitar 70 kWh, sementara model hybrid hanya membutuhkan kapasitas sekitar 0,7 hingga 1 kWh. Lebih lanjut, Nandi mengakui bahwa pemanfaatan nikel dalam negeri untuk industri baterai masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya, sebagian besar nikel Indonesia masih diekspor untuk kemudian diolah kembali menjadi komponen baterai di luar negeri. “Mining sudah ada di Indonesia, assembling baterai juga sudah ada. Tapi untuk ke hulunya masih proses. Banyak yang masih diekspor, lalu masuk lagi dalam bentuk komponen,” ujarnya. Baterai nikel Toyota Menurut Nandi, pelacakan (penghitungan TKDN) asal bahan baku baterai tidak semudah komponen otomotif lainnya karena telah melalui berbagai tahapan pengolahan dalam rantai pasok global. Untuk mendorong pemanfaatan nikel nasional secara optimal, Toyota terus mendorong percepatan lokalisasi industri baterai dengan memperhatikan kesiapan volume produksi serta dukungan kebijakan pemerintah. “Kita tidak bisa bicara waktunya. Yang penting volumenya mendukung, kebijakannya mendukung. Kalau dua itu berjalan, otomatis akan cepat,” kata Nandi. “Soon, kita akan lakukan localization (untuk baterai mobil listrik),” ucap dia. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang