Ilustrasi mobil listrik / cas kendaraan listrik Subsidi mobil listrik kembali menjadi perbincangan setelah Jerman memutuskan menghidupkan lagi insentif kendaraan listrik yang sebelumnya dihentikan. Langkah ini diambil setelah penjualan mobil listrik sempat merosot tajam pasca pencabutan subsidi pada akhir 2023. Pemerintah Jerman menyiapkan skema subsidi baru dengan nilai antara €1.500 hingga €6.000 atau setara sekitar Rp29 juta hingga Rp118 juta per unit. Besaran insentif akan disesuaikan dengan jenis kendaraan, tingkat pendapatan rumah tangga, serta jumlah anggota keluarga.Total anggaran yang dialokasikan mencapai €3 miliar atau sekitar Rp58,8 triliun. Dana tersebut diperkirakan cukup untuk mendukung pembelian hingga 800 ribu mobil listrik dalam beberapa tahun ke depan. Yang menarik, subsidi mobil listrik ini tidak membatasi asal merek kendaraan. Dengan demikian, merek-merek asal China juga berpeluang menikmati insentif yang sama dengan produsen Eropa maupun global lainnya. Mobil listrik Neta di China Menurut laporan yang disadur VIVA Otomotif dari Carscoops, Kamis 22 Januari 2026, pemerintah Jerman menegaskan tidak ada pembatasan berbasis negara asal. Menteri Lingkungan Hidup Jerman, Carsten Schneider, menyebut belum ada bukti masuknya lonjakan mobil listrik China yang dapat mengganggu pasar domestik. Schneider juga menilai industri otomotif Jerman masih cukup kuat untuk bersaing secara terbuka. Pendekatan ini menunjukkan sikap lebih terbuka dibandingkan beberapa negara Eropa lain yang cenderung protektif. Program subsidi tersebut direncanakan berlaku hingga 2029. Pengajuan insentif bahkan bisa dilakukan secara surut sejak 1 Januari 2026 melalui portal daring yang dijadwalkan aktif pada Mei mendatang.Skema subsidi ini pertama kali diumumkan pada Oktober tahun lalu. Pemerintah menyusun program ini agar manfaat terbesarnya dirasakan oleh masyarakat berpenghasilan rendah hingga menengah.Sebagai catatan, Jerman sebelumnya menghentikan subsidi mobil listrik pada akhir 2023 karena tekanan anggaran negara. Keputusan itu langsung berdampak pada penurunan penjualan mobil listrik hingga 27 persen sepanjang 2024.Pemerintahan baru kini berupaya mengembalikan momentum pasar kendaraan listrik. Langkah ini diambil meski Uni Eropa baru saja melonggarkan rencana pelarangan total mobil bermesin bensin dan diesel pada 2035.Dalam laporan sebelumnya, subsidi disebut hanya berlaku untuk mobil listrik baru dengan harga di bawah €45.000 atau sekitar Rp890 jutaan. Namun hingga kini, batas harga kendaraan dan syarat pendapatan masih menunggu kepastian resmi.Sebagai perbandingan, program subsidi mobil listrik Jerman periode 2016 hingga 2023 telah menyalurkan dana sekitar €10 miliar atau setara Rp198 triliun. Selain subsidi pembelian, pemerintah juga memperpanjang insentif pajak mobil listrik hingga 2035 sebagai bagian dari strategi transisi energi yang lebih fleksibel.