Harga minyak dunia berpotensi mengalami kenaikan jika konflik di kawasan Timur Tengah tidak segera mereda. Kondisi tersebut diprediksi akan berdampak luas terhadap berbagai sektor, termasuk industri otomotif. CEO PT Sokonindo Automobile, Alexander Barus, mengatakan kenaikan harga minyak bisa membuat biaya transportasi dan logistik ikut meningkat. DFSK hadirkan Gelora E B-Type di GJAW 2025, blind van listrik terjangkau dengan fitur lengkap untuk kebutuhan bisnis. “Jadi pasti kalau kondisi Timur Tengah ini tidak mereda, saya kira akan naik terus semua barang. Karena kan semua komponennya ada komponen transport,” kata Alexander di Jakarta, Senin (9/3/2026). Ia menilai situasi tersebut justru bisa menjadi momentum bagi kendaraan listrik untuk semakin dilirik konsumen. “Kalau saya melihat ini banyak akan pergeseran ke mobil listrik. Karena listrik kita ini sumbernya banyak dari batubara, dia enggak ada unsur minyak. Begitu dicas dia bisa jalan,” ujar Alexander. Menurut dia, ketergantungan kendaraan listrik terhadap minyak relatif kecil dibandingkan kendaraan berbahan bakar bensin atau solar. “Jadi menurut saya ini adalah kesempatan untuk mobil listrik dan customer berpindah ke mobil listrik,” katanya. Senada dengan itu, Director of Sales Center PT Sokonindo Automobile Cing Hok Rifin mengatakan, kenaikan harga minyak berpotensi berdampak langsung terhadap harga bahan bakar minyak (BBM). “Jadi bisa dibilang yang berpengaruh nanti harga BBM tadi. Kita harap banyak negara juga enggak sanggup untuk subsidi terus untuk kelas premium yang disubsidi,” ujar Rifin. Ia menilai kondisi tersebut bisa berdampak positif terhadap penjualan kendaraan listrik. “Mungkin penjualan kita bisa bertambah dua kali lipat atau lebih dari kenaikan harga minyak tadi,” kata Rifin. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang