Lonjakan harga bahan bakar akibat konflik di Timur Tengah mulai mendorong perubahan preferensi konsumen di kawasan Asia-Pasifik. Kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) kini semakin dilirik sebagai solusi untuk menekan biaya operasional. Gangguan pasokan energi terjadi setelah konflik militer yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran menghambat distribusi melalui Selat Hormuz. Ilustrasi letak geogafis Iran di Selat Hormuz. Jalur ini selama ini menjadi salah satu arteri utama perdagangan energi global, dengan kontribusi sekitar 20 persen terhadap pasokan minyak mentah dan gas alam cair dunia. International Energy Agency (IEA) dikutip Reuters menyebut kondisi ini sebagai salah satu gangguan pasokan terbesar dalam sejarah. Dampaknya terasa signifikan di Asia, yang menyerap lebih dari 80 persen distribusi minyak dari jalur tersebut. Kenaikan harga energi pun langsung memicu perubahan di berbagai negara. Di Australia, pembiayaan kendaraan listrik tercatat meningkat hingga dua kali lipat pada Maret. Sementara itu, permintaan dari sektor bisnis juga naik signifikan seiring upaya perusahaan menekan biaya operasional. Pelaku usaha, mulai dari skala kecil hingga korporasi besar, mulai mempertimbangkan elektrifikasi armada sebagai langkah strategis menghadapi volatilitas harga bahan bakar. Perubahan juga mulai terlihat di Jepang, yang sebelumnya dikenal lambat dalam adopsi EV. Keterbatasan infrastruktur pengisian daya dan kuatnya dominasi kendaraan konvensional kini mulai tergerus oleh tekanan biaya energi. Ilustrasi pengisian daya kendaraan listrik. Baterai sodium-ion buatan BAIC diklaim mampu terisi penuh hanya dalam 11 menit berkat teknologi fast charging 4C. Analis Itochu Research Institute menilai Jepang telah memasuki fase krusial dalam transisi kendaraan listrik. Kenaikan harga energi diperkirakan akan mempercepat pergeseran tersebut dalam waktu dekat. Saat ini, pangsa kendaraan listrik murni di Jepang masih di bawah 2 persen. Namun, produsen seperti Toyota dan Nissan mulai bersiap memperluas lini produk EV, didukung peningkatan subsidi pemerintah. Di sisi lain, Tesla juga berencana memperkuat ekspansi di Jepang, termasuk pengembangan jaringan pengisian cepat. Tren serupa terjadi di kawasan lain. Selandia Baru mencatat lonjakan pendaftaran EV dalam waktu singkat, sedangkan Korea Selatan mengalami peningkatan lebih dari dua kali lipat secara tahunan. Kondisi tersebut turut dimanfaatkan produsen asal China. Permintaan global yang meningkat membuka peluang ekspansi, terutama ketika pasar domestik mulai melambat. Saat ini, kendaraan listrik dan hybrid di China telah menyumbang lebih dari separuh total penjualan mobil. Pabrik mobil PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) di Karawang, Jawa Barat. Di Asia Tenggara, minat terhadap kendaraan listrik juga menunjukkan tren positif. Di Thailand, pameran otomotif dipadati pengunjung yang mulai mempertimbangkan peralihan ke EV, dipicu lonjakan harga bahan bakar dan ketidakpastian geopolitik. Fenomena ini menegaskan bahwa krisis energi menjadi faktor penting dalam mempercepat adopsi kendaraan listrik. Bagi konsumen, EV tidak hanya dipandang sebagai tren, tetapi juga solusi rasional untuk menghadapi kenaikan biaya energi. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang