PT Aletra Mobil Nusantara, agen tunggal pemegang merek Aletra, menyadari tantangan besar dalam membangun kesadaran merek di tengah maraknya kehadiran kendaraan listrik (EV) baru di Indonesia. Untuk menjawab tantangan tersebut, Aletra memilih pendekatan yang lebih langsung dan personal dalam mengenalkan produknya ke masyarakat. Product Manager Aletra, Marsellinus Christo Antyo, mengatakan membangun merek membutuhkan waktu. Fasilitas perakitan mobil Aletra di PT Handal Indonesia Motor (HIM), Purwakarta, Jawa Barat Namun, sebagai pendatang baru, Aletra tidak hanya mengandalkan strategi branding konvensional. “Branding itu pasti jalan, tetapi sebagai merek baru kami harus jemput bola. Kami datang langsung dan mengenalkan produk secara personal,” ujar Christo di Purwakarta, Jawa Barat, Rabu (21/1/2026). Ia menjelaskan, strategi branding Aletra saat ini lebih bersifat gerilya. Pendekatan dilakukan dengan berinteraksi langsung dengan konsumen, tidak semata mengandalkan promosi digital atau komunikasi di atas kertas. Selain itu, Aletra juga mengedepankan efisiensi biaya sebagai nilai tambah produk. Identitas Aletra sebagai merek yang lahir dan dimiliki oleh orang Indonesia turut menjadi narasi yang terus disampaikan ke pasar. Fasilitas perakitan mobil Aletra di PT Handal Indonesia Motor (HIM), Purwakarta, Jawa Barat “Kalau masyarakat paham Aletra lahir di Indonesia dan dimiliki oleh orang Indonesia, mereka juga bisa melihat bahwa perjuangannya tidak mudah, apalagi di tengah banyaknya merek baru,” kata Christo. General Manager Marketing Department Aletra, Niken Mahari, menambahkan bahwa karakter konsumen Indonesia cukup unik. Oleh sebab itu, pendekatan komunikasi Aletra dibuat lebih dekat dengan konsumen umum, terutama keluarga, sejalan dengan karakter produknya di segmen MPV. Salah satu strategi yang mulai digencarkan adalah meningkatkan visibilitas kendaraan di jalan. Dengan semakin banyak unit yang beroperasi, masyarakat diharapkan semakin familier dengan merek Aletra. “Mobil itu berjalan dan terlihat. Dari situ ketertarikan bisa muncul secara alami,” ujar Niken. Dari sisi produk, Aletra menekankan pengalaman berkendara sebagai kekuatan utama. Aletra L8 EV Menurut Niken, meski spesifikasi di atas kertas tidak selalu menonjol, karakter berkendara dibuat mudah dan nyaman, khususnya bagi konsumen yang baru beralih dari kendaraan bermesin konvensional ke listrik. “Belajarnya lebih gampang, tidak kaget, easy to drive, dan fun to drive. Ini penting bagi konsumen yang melakukan switching dari ICE,” kata dia. Penyetelan performa kendaraan juga disesuaikan dengan kondisi jalan di Indonesia agar pengalaman berkendara tetap nyaman dalam penggunaan sehari-hari. “Memang ini tidak bisa cuma dilihat di digital atau di atas kertas. Harus dicoba,” ujarnya. Terkait jaringan penjualan, Aletra saat ini memiliki lima diler di Jakarta. Di luar itu, jaringan diler telah hadir di Bandung, Pekanbaru, Semarang, dan Surabaya. “Lebih baik kami menyiapkan diler dengan maksimal daripada terburu-buru menambah jumlah,” kata Niken. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang