PwC merilis laporan Electric Vehicle Readiness 2025 yang menunjukkan pasar otomotif ASEAN relatif stabil. Pada data tersebut, tercatat total penjualan kendaraan ringan di enam negara hanya turun 1,5 persen menjadi 2,368 juta unit pada kuartal III/2025. Indonesia menjadi pengecualian. Modifikasi mobil listrik Rp 100 jutaan Wuling Air ev dan Binguo EV Pasar kendaraan ringan tanah air terkontraksi 11 persen, akibat kenaikan pajak barang mewah, pengurangan belanja pemerintah, dan pelemahan rupiah. Kondisi ekonomi yang melemah membuat konsumen menunda pembelian kendaraan. Situasi sosial yang tidak stabil ikut memperberat tekanan permintaan. Sementara itu, negara lain justru menunjukkan pertumbuhan. Vietnam, misalnya, mencatat kenaikan penjualan 18 persen, sedangkan Singapura tumbuh 25 persen berkat insentif EV dan penguatan ekonomi. EV Melaju Saat Pasar Konvensional Melemah Berbanding terbalik dengan pasar kendaraan konvensional, penjualan EV di Indonesia justru naik 49 persen. Mitsubishi Xforce Ultimate Diamond Sense di GJAW 2024 Angka ini sedikit lebih tinggi dari rata-rata ASEAN yang tumbuh 62 persen dengan tingkat adopsi 18 persen. Thailand dan Vietnam menjadi motor utama pertumbuhan EV regional. Tingkat adopsi di kedua negara sudah mencapai 30 persen dan 33 persen. Menurut Lukmanul Arsyad, Industrials and Services Leader PwC Indonesia, insentif pajak dan investasi baterai mempercepat penetrasi EV di kawasan. “Tren ini menegaskan peluang besar bagi akselerasi EV,” ujarnya dikutip Rabu (26/11/2025). Peta Pengguna EV di Indonesia Survei PwC mengidentifikasi tiga kelompok pengguna, yakni 14 persen pemilik EV, 70 persen calon pengguna, dan 17 persen kelompok skeptis. Indonesia memiliki porsi calon pengguna paling kecil di ASEAN. PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS) secara resmi telah menyelesaikan pembangunan fasilitas pabrik perakitan baru khusus kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) yang berlokasi di Purwakarta, Jawa Barat di bawah naungan PT National Assemblers, Selasa (10/6/2025). Sebaliknya, Filipina memimpin dengan 84 persen calon pengguna, namun hanya memiliki sedikit pemilik EV. Di sisi lain, tingkat kepuasan pemilik EV Indonesia sangat tinggi. Sebanyak 99 persen responden mengaku puas, naik dari 93 persen tahun lalu. Angka ini menjadi yang tertinggi di kawasan, disusul Malaysia (96 persen) dan Filipina (93 persen). Kepuasan terutama datang dari biaya operasional yang rendah dan waktu pengisian yang lebih cepat. Namun, masih ada keraguan di kalangan pengguna. Sekitar 33 persen pemilik EV mempertimbangkan untuk kembali ke kendaraan berbahan bakar fosil. Alasannya adalah biaya perawatan yang lebih tinggi dari ekspektasi, pengalaman berkendara yang kurang sesuai, serta jarak tempuh yang dirasa terbatas. Minat membeli EV bekas juga rendah. Hanya 47 persen pemilik EV Indonesia yang bersedia membeli EV bekas, di bawah rata-rata ASEAN yang mencapai 59 persen. Preferensi dan Kekhawatiran Konsumen Mobil berukuran sedang menjadi pilihan utama calon pengguna EV di ASEAN-6. Porsinya mencapai 69 persen di Indonesia. Harga tetap menjadi faktor krusial. Hampir setengah calon pengguna di kawasan menginginkan harga di bawah 46.000 dollar AS. Di Indonesia, skeptisisme masih kuat. Kekhawatiran terbesar adalah jarak tempuh terbatas, disusul daya tahan baterai dan waktu pengisian. Di negara ASEAN lain, waktu pengisian menjadi isu utama. Faktor ini masih dianggap menghambat keputusan membeli EV. SPKLU Center pertama di Jakarta kini resmi beroperasi di Rest Area KM 10 Cibubur Infrastruktur Masih Tertinggal PwC juga menilai kesiapan elektrifikasi di ASEAN. Indonesia mencatat skor 2,8 dari 5, naik dari 2,0 pada tahun sebelumnya. Lonjakan terbesar datang dari insentif pemerintah yang mencapai skor 4,0, tertinggi di ASEAN. Permintaan konsumen juga solid di skor 3,7. Namun, kesiapan infrastruktur masih rendah, di mana skor Indonesia baru 1,4, jauh di bawah Singapura yang berada di angka 4,3. Pasokan kendaraan listrik juga belum optimal. Skor Indonesia berada di 2,3, di bawah Vietnam yang mencapai 3,0. Kesenjangan ini menunjukkan perlunya langkah terkoordinasi. Tanpa perbaikan infrastruktur dan rantai pasok, Indonesia berisiko kehilangan momentum di tengah percepatan EV kawasan. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih. Berikan apresiasi sekarang