Lamborghini sempat dikabarkan mau 'murtad' dari mobil pembakaran internal dan hybrid ke mobil listrik murni (EV). Namun, rencana tersebut dibatalkan. Mereka memilih istiqomah pada kepercayaan yang telah dianutnya sejak lama.Lamborghini menganut kepercayaan 'raungan mesin adalah kunci'. Itulah mengapa, mereka membatalkan rencana beralih ke mobil listrik dan fokus mengembangkan mobil hybrid hingga setidaknya lima tahun ke depan. Pabrikan Sant'Agata sebenarnya sudah menyiapkan Lamborghini Lanzador sebagai mobil listrik pertama. Konsepnya sudah diperkenalkan pada 2023 dan direncanakan meluncur tak lama lagi. Namun, proyek tersebut kini dihentikan dan digantikan proyek lain.Lamborghini Lanzador. Foto: Doc. LamborghiniCEO Lamborghini, Stephan Winkelmann, mengatakan minat konsumen terhadap Lamborghini listrik masih sangat rendah. Menurutnya, konsumen tetap mencari pengalaman emosional: desain ekstrem, performa buas, dan suara mesin yang khas. Hal-hal itu dinilai belum bisa digantikan mobil listrik."Berinvestasi besar-besaran dalam pengembangan kendaraan listrik murni ketika pasar dan basis pelanggan belum siap akan menjadi langkah yang mahal, dan secara finansial tidak bertanggung jawab terhadap pemegang saham, pelanggan, dan karyawan serta keluarga," ujar Winkelmann, dikutip dari Carscoops, Selasa (24/2).Ketimbang listrik murni, Lamborghini lebih memilih mengembangkan mobil plug-in hybrid (PHEV). Sebab, meski ramah lingkungan, kendaraan tersebut masih tetap memertahankan karakter mesin pembakaran internal.Lamborghini Urus S Meluncur di Indonesia Foto: Dok. Prestige MotorcarsRencana menjadikan Urus generasi terbaru sebagai mobil listrik pada 2029 juga dibatalkan. Lamborghini tak mau mengambil risiko pada model terlarisnya. Sebab, Urus merupakan penopang utama bisnis mereka.Meski begitu, Lamborghini tak menutup pintu sepenuhnya untuk EV di masa depan. "Never say never," kata Winkelmann. Namun untuk beberapa tahun ke depan, arah mereka sudah jelas: hybrid dulu, baru listrik murni."Kami juga perlu siap. Zaman yang kita jalani sekarang bergerak sangat cepat; jika Anda tidak bereaksi cepat, Anda berisiko bangkrut atau kehilangan momentum. Makanya, kita membutuhkan basis keuangan yang solid untuk berinvestasi kembali di masa depan," kata dia.