Publik baru-baru ini dihebohkan dengan kabar seorang anak kecil yang mendapat hadiah supercar mewah bernilai puluhan miliar rupiah dari orang tuanya. Supercar tersebut adalah Lamborghini Revuelto, seharga Rp 22 miliaran, oleh Najmuddin Ayyub, CEO TRK Holding sekaligus politikus dari Gerindra. Fenomena ini memunculkan beragam reaksi, mulai dari kekaguman hingga pertanyaan soal kepantasan dan tujuan pemberian hadiah semewah itu kepada anak yang bahkan belum cukup umur untuk memiliki SIM. Si anak masih berumur 9 tahun, sementara hadiah yang diberikan adalah supercar harga puluhan miliar rupiah. Si anak pun belum bisa menggunakan atau mengendarai mobil tersebut. Psikolog anak, Mario Manuhutu, mengatakan, hadiah tersebut tidak akan berdampak secara positif. Pertama, untuk perkembangan anak tersebut. "Kita bicara tentang perkembangan psikologis ya. Contohnya begini, si anak usia di bawah 10 tahun, dapat rapor bagus, nilainya bagus. Lalu, dia dapat sesuatu, misalkan tablet atau sepertinya juga ada ya orang tua ngasih anaknya handphone gitu. Mungkin iPhone terbaru atau Samsung terbaru, anak pada dasarnya kan akan senang. Merasa inilah hasil kerja kerasku, usaha aku dihargai, tapi apakah kemudian dia bisa pakai itu, itu masalah lain,"ujar Mario, saat dihubungi Kompas.com, belum lama ini. "Jadi kan begini, kamu dapat hadiah tersebut, lalu apa sih yang terjadi, kamu cuma dapat excitement sebentar, temporary gitu kan, dan ketika keadaan itu temporary, berarti kan setelahnya anaknya harus melanjutkan kegiatannya. Dia harus belajar, dia mesti berinteraksi sama teman-temannya, atau barang-barang atau sesuatu yang ada di rumahnya, diberdaya gunakan untuk perkembangan si anak," kata Mario. Mario menambahkan, orang tua memberikan telepon buat anaknya, telepon mahal, mungkin cuma dipakai untuk komunikasi atau main game. Menurutnya, belum tentu itu bisa membantu si anak. "Jadi, sebenarnya pesannya sih buat orang tua, kita mengharapkan apa sih buat si anak? Kalau kita mengharapkannya, ya biar anakku senang gitu, apakah sebenarnya itu untuk membuat anak merasa senang atau justru ini membuat orang tua merasa egonya terpenuhi? Aku bisa belikan anakku, merasa bangga. Tapi, apakah kemudian ada dampaknya buat si anak? Enggak ada apa-apa pun, dampaknya cuma orang senang," ujarnya. "Apakah dengan handphone kemudian kita bisa mencukupkan kebutuhan komunikasi anak, belum tentu. Ternyata dengan handphone, anak kemudian sibuk dengan gadgetnya. Orang tua juga jadinya merasa, ya sudahlah, sudah dikasih gadget, beres masalah, enggak juga," katanya. Mario mengatakan, misalkan orang tua memberikan sesuatu yang belum wajar untuk anaknya, berarti anak juga tidak belajar untuk bisa mengolah sesuatu, bisa memperdayakan sesuatu, bisa belajar dari sesuatu. "Kalau misalkan orang tua ngasih buku, anak bisa baca. Tapi, kalau misalkan dikasih sesuatu yang belum wajar, apakah dia bisa menggunakannya? Belum tentu. Anak itu kan butuh diapresiasi, enggak harus dengan barang. Tapi, dengan kata-kata juga bisa," kata Mario. Menurut Mario, orang tua juga perlu memperhatikan ketika anak gagal atau tidak bisa memenuhi ekspektasi orang tua. Apalagi, setelah diberikan hadiah yang mahal. Padahal, anak mungkin sudah berusaha. "Jadi, ini sebenarnya buat orang tua, kita perlu hati-hati, perlu lebih cermat. Makanya, ketika mau memberikan sesuatu pada anak, dipikirkan dulu dengan matang. Anak tidak butuh banyak barang, anak butuh kasih sayang orang tuanya, anak butuh pelukan orang tuanya, anak butuh kata-kata motivasi, kata-kata yang menyenangkan, menenangkan, menyamankan dari orang tuanya. Bukan barang-barang," ujarnya. Sementara itu, Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) Sony Susmana, mengatakan, hadiah adalah ungkapan rasa, bisa karena cinta atau juga motivasi. "Kalau kita melihat dari sisi kepantasan, memang agak nyeleneh seorang anak yang umurnya di bawah 10 tahun, belum punya SIM dan mungkin belum bisa mengemudi," ujar Sony, saat dihubungi Kompas.com, belum lama ini. Lebih lanjut, Sony menegaskan bahwa persepsi publik sering kali terfokus pada aspek mengemudinya, padahal konteksnya bisa berbeda. Lamborghini resmi merilis mobil baru Lamborghini Revuelto. "Mindset kita yang melihat pasti tertuju ke mengemudinya. Padahal, belum tentu, mungkin untuk dipajang atau pakai sopir, dan lainnya," kata Sony. Sony juga melihat bahwa orang tua yang memberikan hadiah semewah itu kemungkinan memiliki maksud tertentu di baliknya. Ia meyakini keputusan tersebut tidak diambil tanpa pertimbangan, termasuk soal keamanan dan tanggung jawab. "Orang tuanya pasti punya tujuan lain dan pastinya tidak akan memperbolehkan si anak menyetir sebelum benar-benar kompeten dan punya SIM," ujarnya. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.