JAKARTA, KOMPAS.com - Pasar otomotif semakin bergerak cepat ke arah elektrifikasi, dengan merek-merek China menjadi salah satu pemain paling agresif. Kebanyakan model asal Tiongkok ini hadir dengan ragam teknologi baru, harga kompetitif, serta kemampuan berinovasi dalam waktu singkat. Namun, bagi Lamborghini, persaingan itu bukan soal siapa yang paling cepat berinovasi secara teknis, melainkan siapa yang tetap mampu menjaga emosi dalam pengalaman berkendara. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Francesco Scardaoni, Regional Director of Automobili Lamborghini Asia Pacific, saat menanggapi perkembangan pesat brand China yang kini makin mendominasi industri kendaraan listrik. “Brand China sangat maju dalam elektrifikasi dan konektivitas, mereka menetapkan banyak tren dan benchmark baru. Namun Lamborghini berada di ranah berbeda kami tidak menjual mobil, kami menjual mimpi,” ujar Francesco, Senin (24/11/2025). Menurutnya, keunggulan Lamborghini tidak semata terletak pada tenaga atau teknologi, tetapi pada emotional performance yang muncul ketika seseorang memandang, memasuki, hingga memacu mobil tersebut. Hal inilah yang membuat Lamborghini tetap relevan di tengah derasnya tren elektrifikasi. “Pelanggan kami masih mencari emosi dari suara mesin dan sensasi berkendara yang tidak dapat digantikan mobil full-electric. Mereka sudah memahami bahwa hybrid Lamborghini bukan kompromi, melainkan peningkatan pengalaman berkendara,” kata Francesco. Lamborghini Urus SE Dengan kata lain, transisi Lamborghini menuju elektrifikasi dilakukan tanpa mengorbankan karakter utamanya yakni performa yang visceral, suara mesin yang menggetarkan, dan pengendalian yang menimbulkan adrenalin unsur yang tidak selalu dapat ditiru oleh kendaraan Full electric. Lamborghini kini bergerak menuju jajaran model hybrid penuh seperti Revuelto, Urus SE, dan segera menyusul Temerario. Namun, berbeda dari tren umum elektrifikasi yang menekankan efisiensi, Lamborghini menempatkan hybrid sebagai cara untuk meningkatkan sensasi. Baterai dan motor listrik diposisikan bukan sebagai pengganti performa mesin V8 atau V12, melainkan sebagai dorongan tambahan yang justru membuat akselerasi lebih instan, pengendalian lebih presisi, dan respon mobil lebih hidup. Meski mengakui keunggulan teknologi brand China, terutama dalam konektivitas dan ekosistem digital, Lamborghini tidak melihat kompetisi tersebut sebagai ancaman langsung. Segmen yang ditempati kedua pihak berbeda jauh. mobil dari China berlomba menghadirkan teknologi masa depan, sedangkan Lamborghini mempertahankan tradisi membangun kendaraan yang menghadirkan perasaan bukan hanya kemampuan. Dengan strategi tersebut, Lamborghini yakin tetap mempertahankan posisinya sebagai ikon otomotif yang tidak hanya mengikuti teknologi, tetapi juga menjaga jiwa dan emosi dari sebuah supercar. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.