Changan memberikan 'insentif' sendiri buat konsumennya di tengah ketidakjelasan nasib insentif EV dari pemerintah untuk tahun 2026.Nasib insentif untuk sektor otomotif dalam negeri belum jelas. Termasuk insentif buat mobil listrik yang berlaku seperti tahun lalu. Sebagai langkah antisipatif, sejumlah produsen pun mulai melakukan penyesuaian harga. Salah satunya dilakukan Changan Indonesia yang belum lama ini meramaikan industri otomotif dalam negeri lewat dua mobil listrik Lumin dan Deepal S07.Changan diketahui menjadi salah satu pabrikan yang bisa mendapatkan fasilitas insentif PPN 10 persen di penghujung tahun 2025. Sebab, Changan baru merilis mobil di Indonesia pada November tahun lalu. Dua produk Changan memenuhi persyaratan produksi dalam negeri dengan TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) 40 persen. "Untuk antisipasi kan kita pakai 12 persen dulu lah baik Lumin maupun Deepal. Jadi kita sekarang udah pakai hitungan 12 persen dulu. Nah kalau pakai hitungan ideal, harganya yang di website itu, Lumin Rp 199 juta dan Deepalnya Rp 649 juta," ujar CEO Changan Indonesia Setiawan Surya ditemui di Kopitagram Ampera, Jumat (30/1/2026).Setiawan menambahkan, meski sudah menggunakan harga dengan PPN normal, namun ada pengecualain bagi konsumen yang sudah melakukan pemesanan pada Januari 2026. Changan memberikan harga spesial jauh lebih murah dari harga yang berlaku di situs resminya. Konsumen bisa mendapatkan Lumin dengan harga Rp 183 juta dan Deepal S07 seharga Rp 609 juta."Jadi ya mau nggak mau ya, sementara dengan hitungan 12 persen. Ya kami serap dulu kerugiannya, selisih 10 persennya ya Indomobil tanggung dulu lah supaya minimal kustomer ada kesempatan untuk beli di bulan Januari ini," beber Setiawan.Diberitakan sebelumnya, Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, pihaknya sudah mengajukan usulan insentif dan stimulus untuk sektor otomotif kepada Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa.Dia mengklaim, insentif untuk sektor otomotif merupakan salah satu upaya pemerintah dalam melindungi nasib tenaga kerja di Indonesia. Namun hingga saat ini nasib insentif itu belum jelas."Kami sudah kirim dan tentu seperti yang selalu kami sampaikan bahwa program yang kami usulkan atas nama perlindungan tenaga kerja, dan juga kekuatan atau penguatan manufaktur bidang otomotif yang pada akhirnya akan memberikan kontribusi kepada perekonomian," kata Agus.