Booth Daihatsu di IIMS 2026 Direktur Pemasaran dan Komunikasi Korporasi PT Astra Daihatsu Motor (ADM), Sri Agung Handayani, mengatakan bahwa adopsi kendaraan listrik di Indonesia membutuhkan waktu. Hal ini berkaitan dengan kondisi konsumen yang tersebar di berbagai wilayah dengan karakteristik berbeda. GULIR UNTUK LANJUT BACA “Elektrifikasi itu butuh waktu di Indonesia,” ujar Sri Agung belum lama ini di Jakarta.Menurut dia, terdapat tiga kekhawatiran utama yang kerap muncul dari konsumen, khususnya pembeli mobil pertama (first car buyer). Pertama adalah soal nilai aset jangka panjang. Konsumen masih mempertanyakan apakah mobil listrik dapat bertahan lama dan tidak menjadi beban di kemudian hari.Kedua, terkait biaya operasional, khususnya konsumsi listrik. Bagi sebagian masyarakat di daerah, pengeluaran listrik rumah tangga masih menjadi pertimbangan penting. “Mereka khawatir konsumsi listriknya akan lebih mahal atau membebani,” kata Sri Agung.Ketiga adalah faktor pemeliharaan. Biaya servis dan perawatan kendaraan listrik dinilai belum sepenuhnya dipahami oleh masyarakat luas. Kekhawatiran tersebut membuat adopsi mobil listrik belum merata, terutama di wilayah non-urban.ADM sendiri mengklaim telah melakukan berbagai survei untuk memetakan kebutuhan konsumen di seluruh Indonesia. Hasilnya menunjukkan bahwa kesiapan terhadap elektrifikasi belum seragam. “Market kita di seluruh wilayah Indonesia, jadi kita harus melihat kesiapan mereka,” ujarnya.Sri Agung menambahkan, strategi Daihatsu saat ini masih berfokus pada produk yang sesuai dengan kebutuhan mayoritas konsumen, terutama di segmen entry dan kendaraan komersial ringan. Segmen tersebut dinilai masih membutuhkan solusi mobilitas yang terjangkau dan mudah dirawat.Meski demikian, Sri Agung tidak menutup kemungkinan menghadirkan mobil listrik di masa mendatang. Namun, keputusan tersebut akan sangat bergantung pada kesiapan ekosistem, termasuk infrastruktur pengisian daya, layanan purna jual, serta tingkat penerimaan masyarakat. ADVERTISEMENT GULIR UNTUK LANJUT BACA “Ini tugas kita bersama untuk memastikan apakah first car buyer itu akan cepat berada di sana (elektrifikasi) atau tidak,” tutur dia.ADM menilai, transisi menuju kendaraan listrik bukan hanya soal menghadirkan produk, tetapi juga membangun pemahaman dan rasa aman di kalangan konsumen. Oleh karena itu, perusahaan memilih mengambil langkah yang lebih berhati-hati sembari terus memantau perkembangan pasar nasional.