Penggunaan mobil listrik untuk perjalanan jarak jauh, termasuk saat mudik Lebaran, mulai menjadi pilihan sebagian masyarakat. Dalam perjalanan tersebut, pengemudi biasanya memanfaatkan fasilitas fast charging (pengisian daya cepat) di stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) agar waktu pengisian baterai lebih singkat. Menurut Aftersales Service Operation Manager Jaecoo Indonesia, Bayu Agus Mustofa, penggunaan pengisian cepat secara terus-menerus memang bisa memengaruhi kondisi baterai, meski dampaknya tidak terjadi secara instan. "Pada dasarnya sistem baterai itu sama, baik di mobil listrik maupun perangkat lain seperti ponsel. Faktor yang paling menentukan adalah suhu baterai," kata Bayu kepada Kompas.com, Jumat (6/3/2026). Bayu menjelaskan, ketika mobil listrik baru saja digunakan untuk perjalanan, kondisi baterai biasanya sudah berada pada suhu yang cukup tinggi. Jika setelah itu langsung dilakukan pengisian cepat, maka suhu baterai bisa meningkat lebih cepat karena proses pengisian yang menggunakan daya besar. SPKLU Center Signature berkapasitas 400 kW di Scientia Garden, Gading Serpong, Kabupaten Tangerang. Fasilitas ultra fast charging yang mengusung teknologi split charger dengan liquid cooling system yang memungkinkan proses pengisian daya kendaraan listrik berlangsung lebih cepat dan efisien. Ia menambahkan, pengisian cepat memang dirancang untuk mempersingkat waktu pengisian baterai. Namun konsekuensinya, panas yang dihasilkan juga lebih tinggi dibandingkan pengisian menggunakan arus AC atau pengisian daya biasa. "Untuk pengisian cepat sendiri sebenarnya sudah ada siklus standarnya. Penurunan performa baterai biasanya mulai terlihat di kisaran sekitar 1.200 sampai 1.400 siklus pengisian," ujar Bayu. Meski demikian, Bayu menegaskan bahwa pengguna mobil listrik tidak perlu terlalu khawatir. Sebab, penurunan performa baterai akibat penggunaan pengisian cepat tidak terjadi secara drastis selama sistem manajemen baterai bekerja dengan baik. Ia juga menyarankan agar saat melakukan pengisian daya, mobil sebaiknya dalam kondisi mati. Tujuannya agar tidak ada sistem kendaraan yang bekerja dan menambah beban panas pada baterai selama proses pengisian berlangsung. "Kalau mobil dimatikan saat charging, suhunya bisa lebih stabil. Kurang lebih prinsipnya sama seperti saat kita mengecas ponsel, kalau sambil dipakai biasanya akan terasa lebih panas," kata Bayu. Selain itu, pengguna juga disarankan untuk tidak menunggu baterai terlalu kosong sebelum melakukan pengisian. Idealnya, pengemudi sudah mulai mencari SPKLU ketika kapasitas baterai berada di sekitar 20 persen agar tidak sampai turun di bawah 10 persen. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang