JAKARTA, KOMPAS.com - Dewasa ini mobil listrik semakin siap digunakan untuk perjalanan jarak menengah hingga jauh, termasuk saat libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/26. rata daya jelajah kendaraan listrik murni (battery electric vehicle/BEV) yang sudah mencapai sekitar 300 kilometer, perjalanan Jakarta–Semarang dapat dilakukan dengan perencanaan yang tepat. Diketahui, jarak Jakarta–Semarang melalui Tol Trans Jawa berada di kisaran 440 kilometer. Test Drive Sealion 7 di GJAW 2025 Artinya, pengemudi mobil listrik tidak perlu terlalu sering berhenti untuk mengisi daya, asalkan baterai dalam kondisi penuh saat berangkat dan manajemen tepat. Mulai dari Jakarta dengan Baterai Penuh Perjalanan ideal dimulai dari Jakarta dengan kondisi baterai 100 persen. Dengan estimasi jarak tempuh efektif sekitar 300 kilometer, kendaraan masih memiliki ruang aman atau buffer daya untuk menghadapi kondisi lalu lintas padat, penggunaan AC, serta kecepatan yang tidak konstan selama periode Nataru. Dalam praktiknya, pengemudi disarankan tidak menguras baterai hingga di bawah 20 persen. Buffer daya ini penting sebagai cadangan apabila terjadi antrean di rest area atau kepadatan lalu lintas yang membuat konsumsi energi meningkat. Titik Pengisian Strategis di Tol Trans Jawa Test drive MPV listrik Xpeng X9 Dengan asumsi konsumsi daya normal, kendaraan listrik dapat melaju hingga area rest area sekitar KM 200–210 Tol Trans Jawa. Pada titik ini, sisa baterai diperkirakan berada di kisaran 25–30 persen, setara dengan daya jelajah sekitar 75–90 kilometer. Pengisian daya di SPKLU rest area KM 207A dapat dilakukan secara efisien. Dari level baterai sekitar 30 persen ke 80 persen, waktu pengisian diperkirakan berkisar 30–45 menit, tergantung kapasitas baterai dan daya pengisian yang tersedia. Pengisian tidak perlu hingga penuh. Level 80 persen dinilai ideal karena waktu pengisian masih efisien, sementara jarak tempuh tambahan sudah lebih dari cukup untuk mencapai Semarang. Ilustrasi SPKLU mobil listrik di Tol Trans Jawa Lanjut ke Semarang Setelah pengisian di KM 207A, jarak menuju Semarang tersisa sekitar 230–235 kilometer. Namun, jarak tersebut tidak seluruhnya dikonsumsi hingga baterai habis. Dengan tetap mempertahankan sisa daya 15–20 persen sebagai buffer saat tiba di tujuan, jarak tempuh efektif yang digunakan berkisar 130–150 kilometer. Cadangan daya ini disiapkan untuk mengantisipasi kepadatan lalu lintas, perubahan rute, atau mobilitas lanjutan di dalam kota tanpa harus segera mencari pengisian daya atau SPKLU. Antisipasi Kepadatan Selama libur Nataru, rest area diperkirakan mengalami peningkatan kepadatan, termasuk pada fasilitas SPKLU. Oleh karena itu, pengemudi disarankan tidak menunggu baterai terlalu rendah sebelum mengisi daya. Apabila terjadi antrean panjang di satu rest area, keberadaan buffer daya memungkinkan pengemudi melanjutkan perjalanan ke rest area berikutnya tanpa rasa khawatir. Strategi ini dinilai lebih aman dan mengurangi potensi stres selama perjalanan. Manfaatkan Aplikasi untuk Cek SPKLU Sebelum berangkat, pengemudi mobil listrik sebaiknya memetakan lokasi SPKLU di sepanjang Tol Trans Jawa. Informasi tersebut dapat diakses melalui aplikasi PLN Mobile maupun Google Maps. Melalui aplikasi, pengguna dapat melihat lokasi SPKLU, jenis pengisian, hingga jarak dari posisi kendaraan. Dengan begitu, pengemudi bisa menentukan titik berhenti yang paling sesuai dengan kondisi baterai dan lalu lintas. Secara keseluruhan, kunci perjalanan mobil listrik saat libur Nataru terletak pada perencanaan. Berangkat dengan baterai penuh, menjaga buffer daya minimal 20 persen, serta memilih titik pengisian strategis membuat perjalanan lebih tenang dan efisien. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang