Kecelakaan tabrak belakang menjadi salah satu risiko terbesar saat arus mudik Idul Fitri, terutama di jalan tol yang padat. Kondisi pengemudi yang lelah sering membuat respons melambat dan meningkatkan potensi insiden. Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu mengatakan, pengemudi harus aktif mengantisipasi ancaman dari berbagai arah. Salah satu caranya dengan melakukan pemantauan kondisi sekitar secara berkala. “Setiap kita melakukan pergerakan, kita harus scanning, mendeteksi potensi ancaman dari 360 derajat, depan, kiri, kanan, belakang,” kata Jusri kepada Kompas.com belum lama ini. Bus PO Haryanto terlibat kecelakaan beruntun di Tol Batang pada Minggu (15/3/2026) sekitar pukul 15.45 WIB. Ia menyarankan pemantauan dilakukan setiap 5 sampai 8 detik agar tetap efektif tanpa mengganggu fokus ke depan. Selain itu, pengemudi juga perlu memperhatikan kondisi kendaraan di belakang sebelum melakukan manuver. Langkah ini penting untuk menghindari risiko tertabrak saat mengurangi kecepatan. “Kalau kita melakukan manuver perlambatan, cek spion dulu, baru kurangi kecepatan. Bukan nge-rem dulu baru cek spion,” ujar Jusri. Ia menegaskan, keputusan pengereman harus mempertimbangkan situasi di belakang, terutama jika ada kendaraan yang melaju kencang. Jusri juga menyarankan pengemudi memberi jalan pada kendaraan yang berpotensi membahayakan. Misalnya saat dibuntuti bus atau truk, sebaiknya menepi atau pindah lajur agar kendaraan tersebut bisa mendahului. Terakhir, penggunaan lampu hazard saat melakukan perlambatan bisa membantu meningkatkan kewaspadaan pengguna jalan lain. Menurut Jusri, langkah ini menjadi sinyal penting agar pengemudi di belakang memahami bahwa kendaraan di depan akan melakukan manuver. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang