Mudik lebaran kerap dilakukan pada malam hari dengan harapan perjalanan lebih lancar karena lalu lintas lebih sepi. Namun, berkendara pada malam hari justru memiliki risiko lebih tinggi bagi pengemudi. Founder Jakarta Defensive Driving Consulting Jusri Pulubuhu menyarankan, pengemudi tidak memulai perjalanan jauh setelah malam hari. Menurut dia, berkendara malam bertentangan dengan siklus biologis tubuh manusia. “Jangan mengemudi after 7. Maksudnya tidak mengemudi setelah jam 19.00 malam untuk perjalanan ke luar kota,” kata Jusri kepada Kompas.com belum lama ini. Mengemudi malam hari, harus bijaksana! Ia menjelaskan, larangan tersebut berkaitan dengan jam biologis tubuh di mana saat malam hari memang untuk istirahat. Karena itu, aktivitas berat seperti mengemudi jarak jauh tidak direkomendasikan dilakukan pada waktu tersebut. Selain faktor tubuh, visibilitas saat malam hari juga jauh menurun dibandingkan siang hari. Kondisi ini membuat kemampuan pengemudi dalam mengamati situasi di jalan menjadi lebih terbatas. “Pada saat malam hari itu mata kita cenderung menjadi tunnel vision atau mengarah pada satu titik. Bidang peripheral atau sight vision itu berkurang,” ujar Jusri. Menurut dia, anggapan bahwa berkendara malam lebih nyaman karena udara sejuk dan jalan lebih sepi tidak sepenuhnya benar. Justru kombinasi visibilitas yang menurun dan stamina tubuh yang lebih cepat turun dapat memicu ketegangan saat berkendara. “Jadi terbalik dengan apa yang dipikirkan oleh kebanyakan orang. Karena dua alasan tadi, visibilitas dan tubuh kita memang membutuhkan istirahat pada malam hari,” kata Jusri. Maka dari itu, rencanakan perjalanan mudik lebaran dengan baik. Jika memang lebih dari 10 jam, pastikan singgah di kota tertentu untuk beristirahat dan lanjutkan perjalanan keesokan harinya. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang