— Anggapan mengenai waktu terbaik mengisi bahan bakar minyak (BBM) di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) masih sering menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat. Banyak yang meyakini bahwa mengisi bensin pada malam hari jauh lebih menguntungkan karena suhu udara yang lebih dingin. Secara teori, cairan memang akan memuai saat terkena panas dan menyusut saat suhu rendah. Hal inilah yang mendasari mitos bahwa mengisi BBM saat suhu dingin akan mendapatkan jumlah bensin yang lebih banyak atau lebih "padat". PT Pertamina Patra Niaga memastikan tidak ada perubahan harga bahan bakar minyak (BBM) per 1 April 2026. Kebijakan ini berlaku untuk seluruh jenis BBM, baik subsidi maupun non-subsidi, mengikuti arahan pemerintah. Rabu (1/4/2026) Tri Yuswidjajanto Zaenuri, Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) sekaligus pakar bahan bakar dan pelumas, menjelaskan bahwa temperatur udara memang memiliki pengaruh terhadap karakteristik bahan bakar, terutama saat proses distribusi. "Temperatur udara itu kalau malam lebih rendah dibanding kalau siang. Nah, bahan bakar yang terutama yang di truk tangki, itu kan kalau didistribusikannya siang kan kepanasan di jalan," ujar Yuswidjajanto, saat dihubungi Kompas.com, belum lama ini. Pengaruh Suhu Yuswidjajanto memaparkan, ketika truk tangki pengangkut BBM menempuh perjalanan jauh di bawah terik matahari, suhu bahan bakar di dalamnya otomatis akan ikut meningkat. Kenaikan suhu ini kemudian berdampak langsung pada densitas atau massa jenis bahan bakar tersebut. Ilustrasi mengisi bensin mobil. Ramai soal isi bensin dengan pintu mobil terbuka menyebabkan kebakaran. Ilustrasi menggoyang-goyang kendaraan saat isi bensin. "Apalagi kalau mengantarnya jauh, jadi kan bahan bakar yang ada di dalamnya kan juga temperaturnya naik. Nah, kalau temperaturnya tinggi itu namanya densitas atau massa jenis bahan bakarnya turun," katanya. Penurunan massa jenis ini secara teknis berarti volume satu liter bahan bakar pada suhu panas tidak memiliki bobot yang sama dengan satu liter pada suhu dingin. "Massa jenis bahan bakar turun itu artinya sama-sama 1 liter, tapi beratnya berkurang. Kalau tadinya 1 liter beratnya 0,8 kilogram atau 800 gram, dengan temperaturnya naik, beratnya turun, jadi mungkin 780 saja," ucap Yuswidjajanto menjelaskan. Sejumlah pengendara sepeda motor mengantre panjang untuk mengisi bahan bakar di SPBU Pertamina 34.171.44, Jalan RA Kartini, Bekasi Timur, Kota Bekasi, Selasa (31/3/2026). Hal ini krusial karena kandungan energi yang dihasilkan oleh bahan bakar sejatinya dihitung berdasarkan massanya, bukan volumenya. "Kandungan energi bahan bakar itu dalam satuan energi per satuan massa, maksudnya kilojoul atau megajoul per kilogram," tambah beliau. Mitos vs Realita di Indonesia Meski secara hukum fisika hal tersebut benar, namun Yuswidjajanto memberikan catatan penting mengenai efektivitasnya jika diterapkan di Indonesia. Menurutnya, perbedaan suhu antara siang dan malam di Tanah Air tidak seekstrem yang dibayangkan. Antrean kendaraan untuk mengisi Bahan Bakar Minyak (BBM) masih terjadi di SPBU Kebun Cengke, Ambon, Maluku hingga Senin malam (30/3/2026). Antran BBM di SPBU tersebut telah berlangsung sejak pagi tadi "Tapi, tergantung dari perubahan temperaturnya, kalau temperaturnya tidak terlalu besar, perubahannya tidak banyak juga. Ya kalau misalnya di negara kita sih enggak ya, antara malam sama siang kan enggak terlalu beda ya. Mungkin malam 29 derajat (Celcius), siang 30 derajat, itu cuma beda satu derajat," tuturnya. Kondisi ini sangat berbeda dengan negara-negara yang memiliki iklim gurun, di mana fluktuasi suhu antara siang dan malam sangat kontras. "Tapi, kalau di daerah gurun, misalnya di Arab sana, itu kan malam-malam kan bisa dingin banget. Kalau siang kan panas banget bisa 40 (derajat Celcius) atau 50. Nah, mungkin itu perbedaannya cukup signifikan," ujar Yuswidjajanto. Pengendara roda dua dan mobil terlihat mengantre untuk mengisi bahan bakar minyak (BBM) di SPBU di Jalan Ngumban Surbakti, Kecamatan Medan Selayang, Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (5/3/2026). Bagi pemilik kendaraan di Indonesia, kebiasaan mengantre bensin pada malam hari demi mengejar volume yang lebih padat tampaknya tidak memberikan dampak yang berarti pada dompet maupun performa mesin. "Tapi, kalau di kita sih enggak terlalu beda lah. Enggak terlalu pengaruh (isi bensin di malam hari)," ucap dia. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang