Banyak pengendara beranggapan jika mengisi bahan bakar minyak (BBM) kendaraan pada malam hari lebih menguntungkan karena dianggap bisa mendapatkan volume BBM lebih banyak. Anggapan ini membuat sebagian orang memilih membeli BBM di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) pada malam hari ketimbang siang. Namun, benarkah waktu pengisian benar-benar memengaruhi jumlah BBM yang diterima konsumen? Dosen Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung (ITB) Tri Yuswidjajanto mengatakan, pemuaian dan penguapan BBM saat suhu meningkat dapat membuat konsumen membayar lebih karena volume yang terukur di dispenser tidak mencerminkan massa sebenarnya. Ilustrasi BBM pertalite. Pada cuaca panas, BBM di tangki SPBU bisa memuai dan menguap sehingga volume yang keluar dari dispenser tampak lebih besar daripada massanya. Akibatnya, konsumen berpotensi membayar lebih untuk jumlah bahan bakar yang secara massa sebenarnya lebih sedikit. “Kan kita bayar rupiah per liter, ketika temperaturnya tinggi liternya bertambah padahal massanya tetap. Berarti yang kita bayar lebih untuk mendapatkan massa yang sama,” kata Tri kepada Kompas.com, belum lama ini. BBM sebagai cairan akan memuai saat terkena panas, volume cairannya inilah yang dihitung dispenser dalam liter, sementara uapnya tidak. Pada SPBU, tangki telah dilengkapi mekanisme khusus yang mengalirkan uap kembali ke bagian dasar tangki. Walau jumlah liter dengan massa bisa berbeda, perbedaan ini pada konsumen tidak signifikan karena skalanya sangat kecil. Pembelian BBM dalam skala industri bisa mencapai kilo liter sehingga diperlukan penyeragaman agar tidak ada pihak yang dirugikan. Standar ini dikenal sebagai Volume Correction Factor (VCF) menggunakan tabel ASTM 54. Dalam sistem tersebut, volume BBM dihitung berdasarkan suhu acuan 15°C untuk mendapatkan volume bersih dalam satuan kilo liter. Artinya, di mana pun BBM diukur, datanya harus dikonversi terlebih dahulu ke suhu 15°C melalui tabel tersebut. Tri menjelaskan, ketika truk tangki tiba, temperatur dan densitas BBM diukur, lalu dikonversi. Jika pada suhu 15 derajat celcius densitasnya sekian, maka nilai itu yang dipakai untuk transaksi agar adil. Jadi harga per liter dihitung seolah-olah BBM itu berada pada 15 derajat celcius, dan angka tersebut diperoleh lewat tabel. Namun, ia menambahkan bahwa di Indonesia selisih suhu antara malam dan siang tidak terlalu signifikan, sehingga perbedaan volume akibat koreksi temperatur juga relatif kecil. “Intinya, ketika temperatur turun, densitas BBM meningkat,” katanya saat dikonfirmasi Kompas.com, Senin (17/11/2025). Jadi, meskipun secara teori suhu dapat memengaruhi volume BBM, perbedaannya dalam transaksi ritel SPBU sangat kecil dan nyaris tak terasa bagi konsumen. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.