Libur panjang akhir pekan pada 1–3 Mei 2026 yang bertepatan dengan Hari Buruh Internasional biasanya dimanfaatkan masyarakat untuk bepergian ke luar kota, termasuk melakukan perjalanan pada malam hari guna menghindari kemacetan. Namun, kondisi jalan yang lebih lengang sering kali membuat pengemudi tanpa sadar meningkatkan kecepatan, padahal risiko keselamatan tetap mengintai saat jarak pandang terbatas. Training Director The Real Driving Center (RDC), Marcell Kurniawan, menjelaskan bahwa mengemudi dengan kecepatan tinggi, terutama pada malam hari, bisa menimbulkan kondisi berbahaya. “Kondisi itu disebut dengan overdriving your headlight atau melampaui jarak pijar lampu. Artinya, laju kendaraan Anda terlalu cepat sehingga jarak berhenti yang dibutuhkan kendaraan ketika melakukan pengereman darurat lebih jauh dari panjang sorot lampu,” ujar Marcell kepada Kompas.com, belum lama ini. Hujan dengan intensitas rendah meguyur jalur Nagreg, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada H+2 atau Rabu (2/4/2025) sejak sore hingga malam hari Marcell melanjutkan, kondisi tersebut berbahaya karena pengemudi tidak akan punya waktu yang cukup untuk menghentikan mobil dengan aman. Sebagai contoh, mobil melaju dengan kecepatan 70 km per jam (kpj), sementara jarak sorot lampu kendaraan mencapai 45 meter. Ketika harus melakukan pengereman darurat karena tiba-tiba terdapat benda berbahaya yang tersorot lampu (jarak 45 m), maka pengendara membutuhkan jarak sekitar 40 meter untuk berhenti. “Artinya, masih tersisa 5 meter lagi untuk sampai ke titik benda itu berada. Dengan demikian, kondisinya tetap aman,” katanya. Namun, jika mobil melaju dengan kecepatan 80 kpj, sementara jarak sorot lampu tetap 45 meter dan terdapat benda berbahaya pada jarak tersebut, maka jarak pengereman darurat menjadi lebih panjang, mencapai sekitar 60 meter. Dalam kondisi kedua ini, meskipun benda masih terlihat karena berada dalam jangkauan sorot lampu, tabrakan hampir tidak bisa dihindari. Pasalnya, jarak pengereman yang dibutuhkan melampaui jarak sorot lampu. Marcell mengatakan, salah satu solusi untuk mengantisipasi kondisi ini adalah memanfaatkan pancaran lampu jauh (high beam). Namun, penggunaannya tidak bisa dilakukan secara terus-menerus karena berpotensi mengganggu pengendara lain. “Bisa pakai lampu jauh, cuma jangan terlalu sering dan keterusan. Kalau lampu jauh kena mata pengemudi lain, bisa menyebabkan snow blindness. Itu membahayakan pengendara lain dan diri kita juga,” katanya. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang