Kondisi berkendara di malam hari berbeda dengan siang hari. Maka dari itu, pengemudi perlu mempersiapkan dengan baik agar tetap aman dan nyaman. Sony Susmana, Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) mengatakan perjalanan pada malam hari kerap jadi pilihan masyarakat karena dianggap lebih nyaman. “Berkendara di malam hari merupakan hal tak biasa bila dilihat dari beberapa sudut pandang, mulai kebiasaan tubuh manusia ketika malam kan untuk tidur, kondisi lingkungan sepi,” ucap Sony kepada KOMPAS.com, belum lama ini. Agar perjalanan malam dengan mobil tetap aman dan nyaman, pengemudi harus dalam kondisi sehat dan prima. Seperti tidur cukup sebelum berangkat, hindari menyetir malam jika sudah sangat lelah dan perlu bergantian. “Mengantuk adalah musuh utama berkendara pada malam hari, dan ini datangnya dari internal, maka dari itu harus diantisipasi dengan baik, bisa dikendalikan,” ucap Sony. Berkendara di malam hari membutuhkan pencahayaan yang optimal, maka dari itu mobil harus disiapkan dengan baik. Namun, dalam penggunaannya tak boleh asal guna menjaga etika berkendara. SituasiJalan KH Abdullah Syafei, Jakarta Selatan, hingga Flyover Kampung Melayu padat usai diguyur hujan dan bubaran perkantoran , Jumat (12/12/2025) “Gunakan lampu low beam di jalan ramai, high beam hanya di jalan gelap dan sepi, kembali turunkan jika ada kendaraan dari depan, ini etika, agar pencahayaan optimal pastikan lampu depan bersih dan sorotannya tepat,” ucap Sony. Selain itu, penglihatan pengemudi juga bisa dioptimalkan dengan memastikan wiper dan washer berfungsi guna menghalau kotoran di kaca depan. “Atur kaca spion agar mata pengemudi tak silau oleh sorot lampu dari kendaraan lain di belakang, matikan lampu kabin dan jangan terlalu fokus dengan sinar lampu kendaraan lain dari depan,” ucap Sony. Kondisi perbaikan jalan di Ciledug Indah yang membuat arus lalu lintas buka tutup. Jangan melaju dengan kecepatan terlalu tinggi ketika malam hari, karena benda dengan jarak tertentu atau kendaraan lain yang minim penerangan bisa saja dijumpai di jalan. Hardi Wibowo, pemilik bengkel Spesialis Nissan - Honda Yogyakarta mengatakan perjalanan pada malam hari artinya pengendara perlu persiapan ekstra, khususnya dalam menyiapkan perlengkapan darurat. “Pengendara harus mengantisipasi ketika ada kendala di jalan, karena malam hari, mencari pertolongan orang lain bisa jadi lebih sulit, maka dari itu peralatan darurat harus lengkap dan siap di bagasi,” ucap Hardi kepada KOMPAS.com, belum lama ini. Ban Cadangan Velg Kaleng 195/50 R16 Suzuki Fronx GL Peralatan seperti dongkrak, kunci roda, ban cadangan, pipa, kunci busi dan kunci-kunci umum lainnya perlu disediakan di dalam bagasi. Dengan adanya peralatan tersebut, maka ketika dalam kondisi darurat pengguna mobil bisa langsung mengeksekusi masalah yang menimpa, misal untuk mengganti ban cadangan. “Misal ban kempis karena bocor, pengendara harusnya bisa menggantinya dengan ban cadangan untuk menuju bengkel terdekat atau mencari pertolongan, itu butuh kunci roda, dan dongkrak,” ucap Hardi. Selain kunci-kunci di atas, pengendara juga perlu membawa kabel jumper aki. Alat ini terbilang penting karena bisa menghidupkan mobil yang mogok karena aki tekor. Penerangan seperti senter, jas hujan, payung, ponsel, dan alat pemadam kebakaran juga bisa menjadi peralatan darurat tambahan dan perlu disiapkan. Jadi, perjalanan pada malam hari memang bisa lebih nyaman ketika kondisi lancar, tapi akan menjadi menantang ketika muncul kendala tak terduga. Maka dari itu harus dipersiapkan dengan baik. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang