Fenomena Sahur on the Road kembali menjadi sorotan setiap bulan Ramadhan. Di atas kertas, kegiatan ini kerap dimaknai sebagai aktivitas positif: membangunkan warga untuk sahur, berbagi makanan, sekaligus mempererat kebersamaan. Namun dalam praktiknya, tidak sedikit kegiatan tersebut justru berujung pada gangguan ketertiban hingga kecelakaan lalu lintas. Ketua Bidang Road Safety dan Motorsport AISI, Victor Assani, menjelaskan bahwa secara konsep kegiatan ini sebenarnya memiliki nilai sosial. “Idealnya sahur sambil berkeliling itu untuk membangunkan sahur maupun berbagi, supaya menjadi sesuatu yang menyenangkan dan bermanfaat,” ujar Victor kepada Kompas.com, Kamis (19/2/2026). Masalah muncul ketika niat awal tidak selaras dengan pelaksanaan di lapangan. Dalam sejumlah kasus, Sahur on the Road berubah menjadi konvoi ugal-ugalan, penggunaan knalpot bising, hingga aksi provokatif yang memicu perkelahian. Situasi tersebut tidak hanya menimbulkan ketidaknyamanan warga, tetapi juga meningkatkan risiko kecelakaan di jalan. Tampak tunawisma yang berkumpul di pinggir jalan menanti peserta sahur on the road membagikan makanan di kawasan Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Minggu (3/6/2018). Victor menekankan bahwa keselamatan harus menjadi prioritas utama. Menurut dia, kegiatan berkelompok di jalan pada waktu dini hari memiliki risiko tersendiri, mulai dari visibilitas terbatas, kondisi tubuh yang mengantuk, hingga kecenderungan berkendara lebih cepat karena jalan relatif lengang. Kombinasi faktor ini berpotensi memicu insiden fatal jika tidak diantisipasi. Ia juga mengingatkan pentingnya memperhatikan niat, cara, dan dampak. “Akhirnya kembali lagi kepada niat, aksi, dan hasil. Niatnya untuk apa, caranya bagaimana, dan hasilnya kira-kira seperti apa,” kata Victor. Artinya, kegiatan sosial tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab menjaga keselamatan diri sendiri maupun pengguna jalan lain. Dalam konteks safety riding, pelaksanaan Sahur on the Road semestinya tetap mematuhi aturan lalu lintas. Tidak mengganggu arus kendaraan, tidak berkonvoi secara agresif, menggunakan perlengkapan berkendara lengkap, serta menghindari tindakan yang memicu konflik menjadi hal mendasar yang tidak boleh diabaikan. Lebih jauh, Victor menegaskan bahwa jika pemerintah daerah atau kepolisian telah mengeluarkan larangan, maka masyarakat sebaiknya mematuhinya. “Kalau dilarang oleh yang berwenang, ya jangan dilakukan,” ujarnya. Pada akhirnya, perbedaan antara kegiatan yang bermanfaat dan yang berisiko terletak pada kedisiplinan serta komitmen terhadap keselamatan bersama di jalan raya. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang