Fenomena “balap waktu” menjelang adzan magrib kerap terjadi setiap Ramadhan. Banyak pengendara berusaha tiba di rumah tepat sebelum waktu berbuka. Namun dalam kondisi tubuh sedang lapar, haus, dan energi menurun, tekanan kemacetan justru menciptakan kombinasi berbahaya yang meningkatkan risiko kecelakaan. Secara fisiologis, tubuh yang berpuasa mengalami penurunan kadar gula darah menjelang sore hari. Kondisi ini bisa memicu rasa lemas, mengantuk, serta penurunan fokus. Dalam situasi lalu lintas padat, kemampuan merespons perubahan mendadak, seperti kendaraan di depan yang mengerem tiba-tiba, menjadi tidak secepat biasanya. Pengamat keselamatan berkendara dari Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Agus Sani, menjelaskan bahwa faktor fisik dan psikologis saat puasa memang memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan di jalan. “Ketika kadar gula darah turun karena puasa, konsentrasi ikut menurun. Ditambah rasa lelah setelah bekerja seharian dan tekanan ingin cepat sampai rumah, pengendara cenderung lebih emosional dan kurang sabar,” ujar Agus kepada Kompas.com, Jumat (20/2/2026). Menurut dia, kondisi tersebut bisa membuat pengendara lebih agresif, seperti memaksakan menyalip di celah sempit, menjaga jarak terlalu dekat, atau menerobos lampu kuning yang sudah hampir merah. Padahal, keputusan sepersekian detik di jalan sangat menentukan keselamatan. Dari sisi psikologis, rasa lapar juga memicu iritabilitas atau mudah tersinggung. Dalam kemacetan, hal kecil seperti kendaraan lain yang berpindah jalur bisa memancing emosi. Saat emosi naik, kemampuan menilai risiko menurun. Ilustrasi macet. “Puasa bukan berarti kita tidak mampu berkendara dengan aman. Justru perlu kesadaran lebih. Jangan kejar waktu berbuka, tapi kejar keselamatan,” kata Agus. Ia menyarankan pengendara untuk mengatur waktu keberangkatan lebih awal agar tidak terjebak tekanan menjelang adzan. Menjaga kecepatan stabil, memperbesar jarak aman, serta menghindari manuver mendadak menjadi kunci utama. Selain itu, bila memungkinkan, pengendara bisa menepi sejenak saat waktu berbuka tiba, daripada memaksakan diri tetap melaju dalam kondisi emosi dan konsentrasi yang menurun. Terlambat beberapa menit bukan persoalan besar, selama perjalanan berakhir dengan selamat. Di tengah padatnya arus pulang kerja selama Ramadhan, kesadaran bahwa kondisi fisik dan mental sedang tidak prima menjadi langkah awal untuk menekan risiko kecelakaan. Karena pada akhirnya, tujuan utama bukan tiba paling cepat, melainkan tiba dengan aman. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang