Tabrakan beruntun di jalan tol masih kerap terjadi, terutama saat arus padat atau macet panjang seperti arus mudik nanti. Risiko akan semakin fatal jika kendaraan dari belakang melaju kencang, apalagi jika berupa bus atau truk besar. Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu mengatakan, pengemudi perlu mengantisipasi kemungkinan terburuk, termasuk saat berada di posisi paling belakang dalam antrean kendaraan. Mobil yang ringsek akibat kecelakaan beruntun di Tol JORR arah Pondok Pinang, Selasa (10/3/2026). “Kalau kita kendaraan yang paling terakhir, lagi macet dan belakang kosong, tapi dari jauh ada bus kencang, berpotensi menabrak dan kita jadi sarden kaleng, terhimpit,” ujar Jusri kepada Kompas.com belum lama ini. Untuk mengurangi risiko tergencet, Jusri menyarankan pengemudi berhenti dengan jarak aman. Idealnya, jarak dengan kendaraan di depan sekitar satu panjang mobil. Apabila kondisi tidak memungkinkan, minimal pengemudi masih bisa melihat roda belakang kendaraan di depan tanpa harus memajukan badan dari sandaran kursi. “Itu minimal jarak aman dengan kendaraan di depan,” kata Jusri. Selain menjaga jarak, posisi roda juga perlu diperhatikan. Jusri menyarankan setir diarahkan ke kiri atau ke kanan saat berhenti. “Supaya kalau ditabrak, kita enggak tergencet dengan kendaraan di depan,” ujarnya. Dengan posisi roda tidak lurus, mobil masih punya peluang bergeser ke samping dan tidak terhimpit total di antara dua kendaraan. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang