Aksi begal sepeda motor belakangan kembali marak terjadi di sejumlah wilayah Jakarta. Pelaku bahkan tak segan menggunakan senjata tajam hingga senjata api untuk melancarkan aksinya. Di Jalan Duri Raya, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, misalnya, komplotan pencuri motor beraksi di depan warung makan sambil menodongkan benda diduga pistol dan melepaskan tembakan, Minggu (10/5/2026). Tak hanya itu, di Jalan Arjuna Selatan, Kebon Jeruk, seorang korban begal dibacok setelah mencoba melawan empat pelaku yang merampas motor dan barang berharganya pada Senin (4/5/2026) dini hari. Aksi serupa juga terjadi di kawasan Gunung Sahari, Jakarta Pusat. Empat pelaku begal menyerang dua remaja di jalan sepi sambil membawa celurit sebelum merampas motor dan telepon genggam korban. Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia, Sony Susmana mengatakan, maraknya aksi begal bisa dipicu kondisi ekonomi yang semakin sulit. “Faktor ekonomi yang sulit jadikan pengendara dan penumpang motor sebagai target mudah untuk para begal melakukan aksi kejahatan,” kata Sony kepada Kompas.com, belum lama ini. Menurut dia, pelaku begal umumnya beraksi secara berkelompok dan membawa senjata tajam bahkan senjata api. Karena itu, pengendara disarankan tidak melintas sendirian, terutama di jalan sepi. Ilustrasi begal. Aksi begal viral di media sosial, korban kurir paket yang tengah berteduh saat hujan “Susah untuk menghindari ini (begal), kecuali terapkan hukum yang keras dan tegas, serta berkendara berkelompok,” kata Sony. Ia juga mengingatkan pengendara untuk lebih peka terhadap kondisi sekitar. Jika melihat gerombolan mencurigakan di jalan, sebaiknya segera menghindar dan mencari jalur alternatif yang lebih ramai. “Kalau melewati jalanan sepi, bahkan di siang hari pun sebisa mungkin jangan jalan sendirian. Cek juga sekitarnya, kalau ada gerombolan yang mencurigakan, lebih baik coba menghindar,” ujarnya. Sementara itu, Head of Safety Riding Promotion PT Wahana Makmur Sejati, Agus Sani menyarankan pengendara selalu menggunakan perlengkapan berkendara yang lengkap dan aman. Menurut Agus, helm standar, jaket, sarung tangan, dan perlengkapan keselamatan lain bukan hanya melindungi dari risiko kecelakaan, tetapi juga membantu pengendara lebih percaya diri saat berkendara di malam hari atau kondisi minim penerangan. Selain itu, pengendara juga dianjurkan memilih rute yang sudah familiar dan menghindari jalur rawan kejahatan. “Pilih rute yang sudah sering kita lewati agar jika terjadi sesuatu akan lebih mudah mencari bantuan. Hindari rute yang rawan kejahatan dan usahakan memilih jalan yang ramai,” kata Agus. Pengendara juga diminta tetap fokus terhadap situasi sekitar, terutama jika ada kendaraan lain yang tiba-tiba mendekat atau bergerak mencurigakan. “Usahakan tidak terlalu pelan jika berkendara sendirian. Jika memungkinkan, cari aman dengan berbarengan kendaraan lain saat melewati jalan rawan,” ucap Agus. Tak kalah penting, pengendara juga harus waspada terhadap berbagai modus jebakan di jalan sepi, termasuk orang yang pura-pura meminta bantuan. “Jika melihat orang tergeletak atau meminta tolong, sebaiknya hindari dan cari bantuan lain. Ini untuk mencegah modus para pembegal,” kata Agus. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang