Di tengah meningkatnya adopsi kendaraan listrik di Indonesia, strategi produsen dalam menarik konsumen tidak hanya soal harga, tetapi juga kelengkapan fasilitas pendukung. Salah satu yang mulai menjadi sorotan adalah keputusan sejumlah agen pemegang merek (APM) yang tidak menyertakan perangkat pengisian daya di rumah atau home charging dalam paket pembelian. Pengamat otomotif Hendra Noor Saleh menilai, langkah tersebut berpotensi mengurangi kenyamanan konsumen dalam penggunaan sehari-hari, meskipun di sisi lain mampu menekan harga jual kendaraan. Menurut dia, keberadaan home charging seharusnya menjadi bagian penting dalam ekosistem kendaraan listrik, bukan sekadar fitur tambahan yang dijual terpisah. “Kalau tidak disertakan, konsumen jadi harus memikirkan lagi instalasi dan biaya tambahan. Ini bisa menyulitkan, terutama bagi pengguna baru,” ujar Hendra kepada Kompas.com, Sabtu (25/4/2026). Ia menambahkan, tanpa fasilitas pengisian daya di rumah, pengguna akan lebih bergantung pada stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU). Padahal, dalam kondisi tertentu, akses ke SPKLU masih terbatas dan tidak selalu praktis untuk penggunaan harian. “Kalau tiap dua atau tiga hari harus antre di SPKLU, itu bisa menurunkan kenyamanan. Berbeda kalau punya home charging, tinggal colok di rumah,” kata dia. Ilustrasi Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik (SPKL) rumah alias Home Charging EV dari Simon Electric Salah satu yang menjadi perhatian adalah pendekatan sejumlah produsen yang pada beberapa modelnya belum menyertakan perangkat home charging dalam paket pembelian. Kebijakan ini dipahami sebagai upaya menekan harga agar lebih kompetitif di pasar. Namun, Hendra mengingatkan bahwa pendekatan tersebut perlu dipertimbangkan kembali, terutama dalam konteks mendorong adopsi kendaraan listrik secara lebih luas.Menurut dia, kemudahan pengisian daya menjadi salah satu faktor penting dalam keputusan konsumen untuk beralih ke kendaraan listrik. “Memang harga jadi lebih murah, tapi jangan sampai mengorbankan aspek kenyamanan. Untuk kendaraan listrik, pengalaman penggunaan itu sangat bergantung pada kemudahan pengisian daya,” ujarnya. Ia berpandangan, idealnya setiap pembelian mobil listrik sudah dilengkapi dengan solusi pengisian daya di rumah, meskipun biaya instalasi tetap mengikuti ketentuan yang berlaku. Dengan begitu, konsumen tidak hanya tertarik dari sisi harga awal, tetapi juga mendapatkan kemudahan dalam penggunaan jangka panjang, yang pada akhirnya dapat mendorong percepatan adopsi kendaraan listrik. “Home charging seharusnya jadi standar, bukan opsional,” kata Hendra. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang