Pertumbuhan jumlah mobil listrik di Indonesia terus diikuti dengan penambahan infrastruktur pengisian daya. Kehadiran Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) menjadi salah satu faktor penting untuk mendukung kenyamanan pengguna kendaraan listrik, terutama saat melakukan perjalanan jarak jauh. Meski demikian, masih ada anggapan bahwa jumlah SPKLU belum mampu mengimbangi pertumbuhan mobil listrik. Ketua Umum Komunitas Mobil Elektrik Indonesia (Koleksi), Arwani Hidayat, menilai kondisi di lapangan justru sudah jauh lebih baik dibanding beberapa tahun lalu. "Sebetulnya, ketersediaan sarana-prasarana seperti SPKLU itu untuk setiap hari sudah sangat cukup, baik di kota-kota besar maupun antarkota yang memang populasi EV-nya cukup banyak," kata Arwani kepada Kompas.com, Selasa (2/6/2026). SPKLU Signature di Summarecon Mall Bekasi (SMB) hadir dengan spesifikasi industrial. Menurut dia, antrean di SPKLU yang terkadang terjadi saat musim liburan tidak bisa dijadikan ukuran bahwa infrastrukturnya kurang memadai. Peak Season Fenomena tersebut juga terjadi di berbagai negara yang memiliki populasi kendaraan listrik jauh lebih besar. "Memang enggak cuma mobil EV atau enggak cuma di Indonesia. Ketika peak season, pasti punya masalah," ujarnya. "Bahkan di luar negeri, di China yang SPKLU-nya sangat banyak tersedia, mungkin juga di Eropa, kalau pada hari-hari tertentu, karena semua orang keluar kota misalnya, mau tidak mau kelihatannya pada mengantre," ujar Arwani. Ia menambahkan, antrean saat periode puncak perjalanan sebenarnya juga dialami kendaraan bermesin konvensional saat mengisi bahan bakar di SPBU. Kementerian Pekerjaan Umum (PU) bersama Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) memperkuat layanan mudik Lebaran 2026 dengan menyediakan 189 Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di berbagai Tempat Istirahat dan Pelayanan (TIP) di jalan tol. "Tapi mobil ICE pun juga mengantre kan (SPBU). Mobil ICE juga mengantre," kata Arwani. Arwani sendiri mengaku telah menggunakan mobil listrik selama hampir enam tahun. Dalam kurun waktu tersebut, ia melihat perkembangan infrastruktur pengisian daya berlangsung sangat pesat. "Jadi bagi saya, sepanjang pengalaman saya yang sudah hampir enam tahun menggunakan EV, dari mulai ketersediaan charger hanya satu-dua unit sampai sekarang jumlahnya sudah ribuan, itu sudah tidak ada masalah. Sudah sangat memadai," ujarnya. Menurut dia, kondisi tersebut membuat perjalanan jarak jauh menggunakan mobil listrik kini jauh lebih mudah dibanding beberapa tahun lalu. SPKLU di Pulau Jawa Bahkan, pengguna tidak perlu lagi terlalu khawatir kehabisan daya di tengah perjalanan, khususnya di Pulau Jawa yang memiliki jaringan SPKLU cukup rapat. Fasilitas SPKLU rest area KM 43 "Kita juga sudah sering melakukan perjalanan. Apalagi saya sering, sering sekali melakukan perjalanan jauh. Walaupun hanya seputaran di Pulau Jawa, saya tidak mengalami kendala-kendala," kata Arwani. Meski begitu, ia mengakui antrean masih mungkin terjadi pada periode tertentu seperti libur panjang atau musim mudik. Namun, kondisi tersebut dinilai sebagai hal yang wajar karena lonjakan pengguna terjadi dalam waktu bersamaan. "Ya paling kalau lagi big season mengantre, wajarlah bagi saya," ujar Arwani. Saat ini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat jumlah SPKLU untuk mobil listrik di Indonesia telah mencapai sekitar 4.892 unit hingga Mei 2026. Angka tersebut tersebar di berbagai wilayah dan ditargetkan terus bertambah seiring meningkatnya populasi kendaraan listrik nasional. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang