Kendaraan _Plug-in Hybrid Electric Vehicle_ (PHEV) mulai dilirik sebagai solusi transisi menuju era elektrifikasi di Indonesia. Teknologi ini dinilai mampu menjawab kekhawatiran konsumen, terutama terkait keterbatasan infrastruktur kendaraan listrik murni. CEO Andry Ciu menjelaskan, di pasar China, PHEV memiliki karakter yang berbeda dibandingkan hybrid biasa. “Kalau di China, hybrid dan PHEV itu berbeda, karena besaran baterai juga beda,” kata Andry di Beijing, China, akhir pekan lalu. GAC M8 PHEV di Beijing Auto Show 2026 Menurut dia, kehadiran PHEV memang sejak awal ditujukan untuk menjembatani peralihan dari kendaraan konvensional ke mobil listrik sepenuhnya. “Sebenarnya, PHEV lahir untuk mempermudah transisi menuju elektrifikasi, terutama di daerah yang infrastrukturnya masih terbatas. Jadi pengguna tetap bisa merasakan kendaraan listrik,” ujarnya. Lebih lanjut, Andry menilai karakter konsumen di Indonesia juga menjadi faktor penting dalam adopsi kendaraan elektrifikasi. Sebab pembeli mobil akan mempertimbangkan fleksibilitas dalam berbagai kondisi penggunaan. “Di Indonesia, konsumen cenderung mempertimbangkan banyak hal," katanya. GAC M8 PHEV di Beijing Auto Show 2026 "Misalnya, kenapa banyak yang memilih mobil 7-seater, padahal penggunaan harian sering kali hanya untuk satu atau dua orang. Alasannya sederhana, untuk berjaga-jaga jika sewaktu-waktu dibutuhkan, misalnya saat bepergian bersama keluarga atau mudik,” kata dia. Pola pikir tersebut, lanjut Andry, juga berlaku pada kendaraan listrik. Masih ada kekhawatiran ketika mobil digunakan untuk perjalanan jarak jauh, terutama di wilayah dengan infrastruktur pengisian daya yang belum merata. “Pola pikir seperti itu juga berlaku pada kendaraan listrik," kata Andry. "Ada kekhawatiran saat digunakan ke luar kota, terutama karena infrastruktur belum merata. Apalagi pengguna di Indonesia tidak hanya berada di Pulau Jawa, tetapi juga di Sumatera, Kalimantan, hingga Sulawesi,” ujarnya. GAC Aion N60 Karena itu, PHEV dianggap sebagai solusi yang relevan untuk kondisi saat ini. Seperti ketersediaan infrastruktur pengisian daya dan kebiasaan penggunaan konsumen. “Karena itu, untuk mempercepat elektrifikasi dibutuhkan jembatan, salah satunya melalui PHEV," ujarnya. "Saat digunakan ke luar kota, mesin konvensionalnya tetap bisa diandalkan. Sementara untuk penggunaan harian, baterainya saja sebenarnya sudah cukup, dengan jarak tempuh sekitar 110 km. Tinggal diisi ulang setiap hari,” kata Andry. Mekanisme Mekanisme teknologi PHEV, adalah menggabungkan mesin bensin dengan motor listrik serta baterai berkapasitas lebih besar dibanding hybrid biasa. Dalam penggunaan sehari-hari, mobil dapat berjalan sepenuhnya menggunakan tenaga listrik (mode EV) selama kapasitas baterai masih mencukupi. Baterai ini bisa diisi ulang melalui sumber listrik eksternal (plug-in), seperti di rumah atau stasiun pengisian. Ketika daya baterai menipis atau saat dibutuhkan tenaga lebih besar, mesin bensin akan otomatis aktif untuk membantu penggerak roda atau mengisi ulang baterai. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang