Denza N9 PHEV Berbeda dengan BEV yang sepenuhnya mengandalkan baterai, PHEV mengombinasikan motor listrik dengan mesin pembakaran internal. Artinya, kendaraan ini tetap dapat digunakan meski daya baterai habis, tanpa bergantung sepenuhnya pada stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU). GULIR UNTUK LANJUT BACA Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Kukuh Kumara, menilai PHEV memiliki potensi besar untuk dikembangkan di pasar domestik, terutama di tengah disparitas infrastruktur antara wilayah perkotaan dan luar Jawa.“PHEV ini menarik, karena bisa menjadi jembatan antara kendaraan konvensional dan kendaraan listrik. Tinggal bagaimana kebijakan mendukung pengembangannya,” ujar Kukuh dalam diskusi Forum Wartawan Industri (Forwin), di Jakarta. Menurut dia, saat ini industri otomotif tidak lagi bertumpu pada satu teknologi. Kehadiran berbagai jenis powertrain, mulai dari hybrid, PHEV, hingga BEV, menandakan pasar sedang bergerak menuju fase transisi.Hal senada disampaikan CEO Degree Synergy International, Andrea Suhendra. Ia menilai PHEV mampu menjawab kekhawatiran konsumen yang belum sepenuhnya siap beralih ke kendaraan listrik murni, terutama terkait keterbatasan infrastruktur pengisian daya.“PHEV bisa menjadi jembatan bagi konsumen yang belum siap ke BEV. Untuk penggunaan dalam kota bisa pakai mode listrik, tapi tetap aman untuk perjalanan jauh karena masih ada mesin bensin,” kata Andrea.Ia menambahkan, dengan pola penggunaan harian di perkotaan, PHEV dapat beroperasi layaknya mobil listrik sehingga tetap memberikan efisiensi konsumsi bahan bakar dan menekan emisi.Meski demikian, Andrea menilai dukungan kebijakan masih diperlukan agar segmen ini berkembang optimal. Saat ini, PHEV baru mendapatkan insentif terbatas berupa keringanan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM).“PHEV layak diberi stimulus tambahan, tetapi bersyarat, misalnya berdasarkan kontribusi pengurangan emisi atau jarak tempuh listriknya,” ujarnya.Sementara itu, Head of Public and Government Relations BYD Indonesia, Luther T. Panjaitan, menekankan bahwa pengembangan kendaraan listrik di Indonesia perlu didukung ekosistem yang kuat, mulai dari produk hingga jaringan. ADVERTISEMENT GULIR UNTUK LANJUT BACA “Bisnis kami di Indonesia berbasis industri. Kami ingin membangun value chain,” ujar Luther.Dengan kondisi tersebut, PHEV dinilai dapat menjadi solusi realistis di masa transisi, sambil menunggu kesiapan infrastruktur kendaraan listrik yang lebih merata di seluruh wilayah Indonesia.