Fenomena travel gelap diprediksi kembali marak menjelang musim mudik Lebaran 2026. Lonjakan mobilitas masyarakat yang ingin pulang kampung kerap dimanfaatkan oleh angkutan ilegal yang menawarkan perjalanan cepat dengan tarif bersaing. Pengamat Transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia, Djoko Setijowarno, mengatakan bahwa mudik Lebaran tetap menjadi periode dengan pergerakan manusia terbesar di Indonesia. Menurut dia, kondisi ini berbeda dengan libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) yang lebih didominasi perjalanan wisata. “Nataru bersifat opsional dan lebih ke arah wisata, sedangkan mudik Lebaran adalah kewajiban kultural dan religius yang sifatnya non negosiasi bagi mayoritas penduduk," ucap Djoko, dalam keterangannya, Minggu (8/3/2026). Ia menjelaskan, pada musim Lebaran masyarakat cenderung tetap pulang ke kampung halaman meskipun kondisi ekonomi sedang tidak terlalu baik. Kondisi tersebut kerap dimanfaatkan oleh penyedia jasa transportasi ilegal yang menawarkan tarif lebih murah dibanding transportasi resmi. Seorang petugas Satuan Lalu Lintas Polres Padang Panjang mengatur arus kendaraan di kawasan lembah anai, Sumatera Barat, Sabtu (7/3/2026). Pengaturan lalu lintas dilakukan untuk mengantisipasi peningkatan volume kendaraan menjelang arus mudik Lebaran dalam rangka pelaksanaan Operasi Ketupat 2026. Djoko menilai, maraknya travel gelap juga tidak lepas dari keterbatasan layanan angkutan umum, terutama di daerah. “Fenomena travel gelap adalah bukti kegagalan negara dalam menyediakan transportasi umum lokal,” ujar Djoko. Menurut dia, masih banyak wilayah yang belum memiliki layanan transportasi publik yang memadai hingga tingkat desa. Padahal, perjalanan mudik tidak hanya terjadi antarkota besar, tetapi juga menjangkau daerah-daerah kecil yang sering kali tidak dilayani transportasi resmi. Karena itu, Djoko menilai pemerintah perlu memperkuat ekosistem transportasi umum hingga ke daerah, bukan hanya di kota besar. Ia juga menyoroti pentingnya pengembangan angkutan umum yang lebih ramah lingkungan, seperti bus listrik yang diproduksi di dalam negeri. "Pemerintah harus mulai membangun ekosistem bus listrik buatan dalam negeri yang menjangkau hingga pelosok desa, bukan hanya mewah di Jabodetabek. Langkah ini tidak hanya menurunkan emisi, tetapi juga menciptakan green jobs melalui hilirisasi industri baterai dan komponen di daerah," kata Djoko. Djoko menambahkan, pembenahan transportasi umum di daerah perlu segera dilakukan agar masyarakat memiliki pilihan perjalanan yang lebih aman dan terjangkau. Jika layanan angkutan resmi dapat menjangkau hingga tingkat kota kecil dan desa, maka ketergantungan masyarakat terhadap travel gelap diyakini akan berkurang. Selain itu, ia juga mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati ketika memilih moda transportasi saat mudik. Pemudik sebaiknya memastikan kendaraan yang digunakan memiliki izin operasional dan memenuhi standar keselamatan agar perjalanan pulang kampung dapat berlangsung aman dan nyaman. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang