Fenomena travel gelap masih kerap muncul dalam sistem transportasi di Indonesia, terutama ketika permintaan perjalanan meningkat seperti saat musim mudik. Layanan angkutan ilegal ini biasanya menawarkan perjalanan yang lebih fleksibel, bahkan bisa mengantar penumpang langsung hingga ke daerah tujuan. Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat tetap memilih travel gelap meskipun dari sisi legalitas dan keselamatan masih menjadi perhatian. Pengamat Transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia, Djoko Setijowarno, mengatakan bahwa travel gelap sebenarnya bisa ditekan bahkan dihilangkan, asalkan layanan angkutan umum di daerah, khususnya pedesaan, kembali dihidupkan. “Bisa diberantas travel gelap, asal angkutan pedesaan harus dihidupkan,” kata Djoko, kepada Kompas.com, Minggu (8/3/2026). Menurut dia, banyaknya travel gelap saat ini tidak lepas dari minimnya layanan transportasi resmi yang menjangkau hingga tingkat desa. Akibatnya, masyarakat lebih memilih menggunakan jasa angkutan tidak resmi yang dapat mengantar langsung hingga ke daerah tujuan. Ilustrasi penumpang bus AKAP PO SAN Namun Djoko mengakui, menghidupkan kembali angkutan pedesaan bukan perkara mudah. Dibutuhkan komitmen dari pemerintah daerah serta dukungan anggaran yang memadai. Ia menilai sebenarnya dana desa dapat dimanfaatkan secara bertahap untuk mendukung pengembangan transportasi lokal, meskipun hingga saat ini belum ada arahan yang jelas terkait pemanfaatannya. Selain itu, Djoko juga menyarankan agar pemerintah melalui sektor transportasi darat mendorong bus antarkota antarprovinsi (AKAP) untuk memperluas layanan hingga mendekati wilayah pedesaan. Menurut dia, bus AKAP tidak harus berhenti hanya di terminal besar, tetapi bisa melayani hingga terminal yang lebih kecil di tingkat kabupaten atau kecamatan. “Kalau di kabupaten itu sampai terminal tipe C di kecamatan. Berarti kalau ke desa sudah tidak terlalu jauh lagi,” ujarnya. Djoko mencontohkan penerapan sistem tersebut di wilayah Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Ia mengatakan, sebagian besar bus AKAP dari Jakarta melayani perjalanan hingga tingkat kecamatan di daerah tersebut. Ilustrasi travel gelap saat mudik lebaran Kabupaten Wonogiri sendiri memiliki sekitar 25 kecamatan yang dapat dijangkau oleh layanan transportasi tersebut. “Di Wonogiri hampir semua bus dari Jakarta sampai ke kecamatan. Jadi tidak hanya berhenti di kota kabupaten,” kata Djoko. Dengan sistem pelayanan yang menjangkau hingga ke wilayah lebih dekat dengan permukiman masyarakat, kebutuhan terhadap angkutan ilegal pun menjadi jauh berkurang. “Makanya di Wonogiri hampir tidak ada angkutan gelap,” kata dia. Meski demikian, ia menilai sistem tersebut tetap perlu dibenahi, terutama dalam penyediaan fasilitas pendukung seperti tempat istirahat bagi pengemudi agar operasional transportasi tetap aman dan nyaman bagi penumpang. Menurut Djoko, perbaikan sistem transportasi dari hulu hingga hilir menjadi kunci untuk menekan praktik travel gelap yang selama ini tumbuh karena adanya kebutuhan masyarakat yang belum terpenuhi oleh layanan resmi. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang