JAKARTA, KOMPAS.com – Minat masyarakat melakukan konversi sepeda motor bensin menjadi motor listrik masih belum merata. Salah satu penyebabnya adalah keraguan terkait fungsi utama motor di Indonesia yang berbeda dengan konsep awal kendaraan listrik roda dua. Abdulah, pelaku usaha dari Dolland Motor Electric, mengatakan bahwa sampai saat ini asumsi masyarakat ialah motor listrik pada dasarnya lebih cocok digunakan untuk mobilitas jarak dekat. Paket konversi motor listrik buatan Nagara. Jadi yang termurah setelah disubsidi, harga Rp 4 juta "Karena seharusnya motor itu diperuntukkan jarak dekat. Sebenarnya masuk kalau dengan konotasi motor itu penggunaan jarak pendek," kata Abdul panggilannya kepada Kompas.com, Senin (6/4/2026). Menurutnya, kebiasaan masyarakat Indonesia yang menggunakan motor untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pekerjaan harian hingga perjalanan jauh, membuat motor listrik belum dianggap sebagai solusi utama. "Tetapi kan di kita itu rata-rata motor digunakan untuk ojol (harian), untuk touring, dan segala macam," katanya. "Jadi balik lagi, orang banyak mental itu karena itu, dan keseriusan dari pemerintahnya juga kalau saya lihat belum ada," ujar Abdul. Mesin motor yang dicopot saat proses konversi motor listrik Abdul menambahkan, minat terhadap motor listrik biasanya muncul pada kelompok tertentu, seperti pengguna yang sudah terbiasa atau memiliki lingkungan yang mendukung. orang yang sudah punya motor listrik, yang sudah berkomunitas dengan sesama pengguna motor listrik, atau sudah lama terjun dan menggunakan kendaraan listrik, mungkin minat itu akan timbul," ujarnya. Secara umum, terdapat dua kelompok konsumen yang saat ini melakukan konversi motor listrik. Dukung Program Elektrifikasi, Puluhan Siswa SMK Lakukan Konversi Motor Listrik Pertama adalah kalangan penghobi, dan kedua adalah mereka yang mengikuti program pemerintah. "Balik lagi ke dua hal ya, ada penghobi dan ada yang ikut program. Program pemerintah. Kalau program pemerintah itu seperti peminat, karena lebih ke arah masif, semua orang diarahkan untuk mengonversi motornya menjadi listrik," kata Abdul. Meski tidak menyebut angka secara spesifik, Abdul mengungkapkan bahwa hingga saat ini konversi masih lebih banyak dilakukan oleh kalangan penghobi. "Kalau rentangnya tetap dibilang, iya, lebih banyak hobi. Tetap akan lebih banyak hobi. Namun, di kalangan hobi itu, surat-menyuratnya masih 'belang'. Suratnya masih bensin, tetapi motornya sudah listrik," ujarnya. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang