JAKARTA, KOMPAS.com - Program konversi sepeda motor berbahan bakar minyak (BBM) menjadi motor listrik belum menunjukkan daya tarik yang signifikan di tengah dorongan percepatan elektrifikasi kendaraan. Minimnya minat masyarakat dinilai bukan semata soal biaya, tetapi juga menyangkut kepercayaan terhadap hasil konversi serta kenyamanan penggunaan sehari-hari. Menurut Andry Satrio Nugroho, Head of Center of Industry, Trade and Investment at Indef, program konversi belum sepenuhnya menjawab kebutuhan dan preferensi konsumen roda dua di Indonesia. "Program konversi motor listrik memang sudah berjalan, tetapi dari sisi pemilik kendaraan, minatnya masih relatif rendah. Banyak yang masih ragu untuk mengubah motor yang sudah ada menjadi listrik," kata Andry kepada Kompas.com, Kamis (16/4/2026). Ia menjelaskan, salah satu faktor utama yang membuat program ini kurang diminati adalah aspek psikologis konsumen. Pemilik kendaraan cenderung berpikir dua kali sebelum merombak motor yang masih berfungsi normal, terutama jika harus mengganti sistem mesin menjadi berbasis baterai. Selain itu, dari sisi implementasi, konversi dinilai belum berjalan mulus. Ketersediaan bengkel konversi yang terbatas, standar kualitas yang belum seragam, hingga kekhawatiran terhadap performa dan daya tahan kendaraan menjadi pertimbangan tersendiri bagi masyarakat. Penyerahan lima unit motor konversi dari Kementerian ESDM ke Kementerian Keuangan "Secara implementasi, program ini belum sepenuhnya optimal. Ada tantangan di lapangan yang membuat masyarakat belum merasa yakin untuk beralih melalui skema konversi," ujarnya. Data Kementerian ESDM menunjukkan, realisasi program konversi motor listrik masih jauh dari target yang ditetapkan. Sepanjang 2023, jumlah konversi tercatat hanya 181 unit, kemudian meningkat menjadi sekitar 1.500 unit pada 2024. Meski program berlanjut hingga 2025, perkembangan terkininya tidak banyak dipublikasikan secara terbuka, sementara pemerintah sendiri mengakui perlunya evaluasi menyeluruh. Dengan target yang mencapai puluhan ribu unit per tahun, capaian tersebut menegaskan bahwa program konversi belum berjalan sesuai harapan dan masih menghadapi tantangan serius di lapangan. Andry menilai, pendekatan kebijakan perlu diarahkan ulang agar lebih sesuai dengan perilaku konsumen. Salah satu opsi yang dinilai lebih realistis adalah mendorong skema insentif berbasis tukar tambah atau trade-in, di mana masyarakat dapat mengganti motor lama berbasis BBM dengan motor listrik baru. Menurut dia, skema ini lebih menarik karena tidak mengharuskan konsumen mengubah kendaraan lama, melainkan langsung beralih ke produk baru dengan teknologi yang sudah teruji. "Kalau modelnya seperti trade-in, itu lebih menguntungkan bagi konsumen. Mereka tidak perlu khawatir soal hasil konversi, dan bisa langsung menggunakan kendaraan listrik yang memang dirancang dari awal," kata Andry. Lebih lanjut, ia menekankan bahwa keberhasilan program elektrifikasi kendaraan roda dua sangat bergantung pada kemudahan akses, rasa aman, serta kepercayaan publik terhadap teknologi yang ditawarkan. Tanpa itu, berbagai insentif yang diberikan berpotensi tidak efektif dalam mendorong adopsi. Dengan demikian, evaluasi terhadap program konversi dinilai penting agar kebijakan yang diambil ke depan tidak hanya tepat sasaran, tetapi juga mampu menjawab keraguan masyarakat dalam beralih ke kendaraan listrik. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang