Dalam beberapa tahun terakhir ini inovasi sepeda motor listrik mencoba masuk ke Tanah Air untuk menarik minat pasar. Berdasarkan survei ITDP 2025 saat ini, sepeda motor menjadi tumpuan mobilitas di mana dua dari tiga masyarakat kota mengandalkannya sebagai moda transportasi utama bahkan penopang aktivitas ekonomi. Lebih dari 80 persen individu berpendapatan kurang dari Rp 2,7 juta per bulan menggantungkan mata pencahariannya pada sepeda motor. wilayah yang belum terjamah layanan transportasi publik andal, sepeda motor hadir sebagai jawaban atas kebutuhan mobilitas yang tak terpenuhi. Meski begitu motor listrik masih belum bisa memikat pasar. Oleh karena itu motor dengan bahan bakar bensin selalu punya tempat spesial bagi berbagai lapisan masyarakat. Kemal Fardianto, Senior Transport Associate ITDP mengatakan, secara teknis, motor listrik sebenarnya sudah siap diandalkan sebagai moda transportasi sehari-hari. Motor listrik TAILG dipamerkan di Indonesia dalam Grand Launching & Dealer Recruitment Summit. Namun ada sejumlah faktor yang membuat motor listrik masih belum bisa menggeser eksistensi motor konvensional. "Kunci percepatan transisi ke motor listrik justru terletak pada ketersediaan infrastruktur pengisian daya yang tidak mengganggu mobilitas harian," katanya dikutip dari keterangan resmi, Kamis (2/4/2026). Menurut Kemal, pengisian daya listrik di rumah seharusnya menjadi solusi yang paling logis untuk menjawab kebutuhan ini. Ketika sebagian besar kebutuhan pengisian daya dapat dipenuhi di rumah, pemerintah dapat menghindari investasi berlebih pada stasiun pengisian publik, sekaligus meningkatkan efisiensi sistem secara keseluruhan. Namun, pengisian daya di rumah hanya akan efektif jika ditopang dua prasyarat utama yakni kapasitas daya listrik hunian yang memadai dan ketersediaan ruang parkir yang memungkinkan pemasangan fasilitas pengisian. Ilustrasi motor listrik Davigo "Di sinilah transisi sepeda motor listrik beralih dari isu teknologi menjadi persoalan tata kelola infrastruktur dasar," katanya. Namun nantinya pemilik motor akan menghadapi lonjakan tagihan listrik setiap bulannya. Bagi pengguna sepeda motor yang sensitif terhadap biaya, langkah ini jauh dari ringan. "Dalam konteks tersebut, penambahan daya listrik berpotensi menjadi penghalang awal adopsi, terutama bagi kelompok berpendapatan rendah yang paling banyak mengandalkan sepeda motor," katanya. Persoalan menjadi lebih pelik bagi masyarakat yang tinggal di hunian kolektif seperti apartemen di mana pengelolaan tempat parkir (ketersediaan colokan dengan daya yang memadai) berada di luar kendali penghuni. Situasi serupa dihadapi penyewa rumah tapak. Ketika hunian belum mendukung pengisian sepeda motor listrik dan memerlukan penyesuaian instalasi, persetujuan pemilik menjadi prasyarat. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang