Kekhawatiran soal harga dan pasokan bahan bakar minyak (BBM) kembali muncul di tengah ketegangan global, khususnya di kawasan Asia Barat. Kondisi ini membuat masyarakat kembali menyoroti kendaraan listrik sebagai alternatif mobilitas yang lebih hemat dan ramah lingkungan. Namun, pada kenyataannya adopsi kendaraan listrik di Indonesia belum merata. Sebagian masyarakat masih ragu apakah teknologi ini benar-benar siap digunakan dalam kehidupan sehari-hari, terutama di luar kota besar. Sementara itu, secara teknis, mobil listrik saat ini dinilai sudah cukup matang untuk memenuhi kebutuhan mayoritas pengguna harian di Indonesia. Mahaendra Gofar, pendiri EVSafe dan pengajar di National Battery Research Institute, menyebutkan bahwa persepsi masyarakat soal keterbatasan mobil listrik sering kali berbeda dengan pengalaman nyata para pengguna aktif. Banyak orang masih khawatir soal jarak tempuh, ketersediaan stasiun pengisian, dan layanan purna jual. Padahal, sebagian besar tantangan tersebut sebenarnya sudah bisa diatasi dengan cara yang relatif sederhana. Test drive mobil listrik GAC Indonesia “Sebagian besar pengguna EV di Indonesia mengisi daya di rumah, sehingga ketergantungan pada stasiun pengisian publik jauh lebih kecil dari yang dibayangkan,” kata Mahaendra kepada Kompas.com, Kamis (2/4/2026). Menurutnya, keraguan masyarakat lebih sering muncul dari persepsi, bukan pengalaman langsung pengguna. Di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Medan, infrastruktur kelistrikan sudah memadai untuk mendukung pengisian daya di rumah. Pengisian semalaman umumnya cukup untuk memenuhi kebutuhan mobilitas harian selama beberapa hari ke depan. Dari sisi jarak tempuh, mobil listrik juga tidak lagi menjadi kendala utama. Rata-rata kendaraan listrik mampu menempuh 250–400 km dalam sekali pengisian, jauh melampaui kebutuhan mobilitas harian masyarakat yang umumnya hanya berkisar 30–60 km. Selain dari sisi penggunaan, Gofar juga menyoroti keunggulan mobil listrik dari aspek teknis, terutama dalam hal kesederhanaan mekanis. Pada mobil konvensional terdapat ratusan komponen bergerak yang bekerja secara simultan, mulai dari sistem pembakaran, transmisi, hingga sistem pendinginan mesin. Setiap komponen tersebut memiliki risiko haus atau rusak seiring waktu, sehingga berpotensi meningkatkan kebutuhan perawatan. Sebaliknya, mobil listrik mengandalkan motor listrik dan sistem penggerak yang lebih ringkas. Bahkan pada beberapa model, transmisi yang digunakan hanya satu percepatan (single speed), sehingga mengurangi kompleksitas sekaligus potensi gangguan teknis. Mahaendra menambahkan, pengalaman nyata para pengguna menunjukkan bahwa mobil listrik dapat diandalkan dalam penggunaan sehari-hari. “Banyak pengguna yang tidak lagi merasa kesulitan soal jarak atau pengisian, karena mereka terbiasa mengisi daya di rumah dan merencanakan perjalanan dengan baik,” ujarnya. Dengan dukungan teknis dan pengalaman pengguna yang semakin luas, mobil listrik dinilai sudah siap digunakan oleh masyarakat. Seiring meningkatnya adopsi dan pengalaman langsung di lapangan, keraguan terhadap kendaraan listrik diperkirakan akan terus berkurang. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang