Kenaikan harga BBM dunia sebagai dampak perang AS-Israel versus Iran sudah terjadi di beberapa negara. Dampak tersebut juga bisa terjadi di Indonesia, termasuk krisis BBM. Belum lama ini, beredar kabar pemerintah akan menaikkan harga BBM non-subsidi hampir dua kali lipat. Kepala Dinas Perhubungan Bali, I Kadek Mudarta menilai perlu kajian lebih dulu terkait bus listrik rute Singaraja-Denpasar, Bali. Namun, akhirnya pemerintah menegaskan tidak akan menaikkan harga BBM pada 1 April 2026. Pengamat transportasi dari Institut Studi Transportasi (Instran) Ki Darmaningtyas, mengatakan, pemerintah memilih untuk tidak menaikkan harga BBM agar tidak terjadi kegaduhan. "Masalahnya adalah seberapa lama kemampuan pemerintah mensubsidi BBM agar harganya tidak naik," ujar Darmaningtyas, saat dihubungi Kompas.com, belum lama ini. Bus listrik China di Inggris Darmaningtyas kemudian menyoroti rencana pemerintah mendorong konversi 120 juta motor BBM menjadi motor listrik. Rencana ini menurutnya perlu dikaji ulang karena tidak efektif mendorong mobilisasi sektor transportasi, khususnya bagi masyarakat tingkat bawah. Menurut Darmaningtyas, kenaikan harga BBM yang tinggi seharusnya menjadi momentum bagi para pemimpin, khususnya pemimpin daerah, untuk mengembangkan angkutan umumnya agar terjangkau oleh semua warga. Ilustrasi bus listrik DAMRI. "Daripada APBN untuk mengonversi 120 juta motor, lebih baik dipakai untuk pengadaan bus listrik yang dapat dibagikan kepada semua provinsi dan kabupaten/kota, sehingga semua ibu kota provinsi dan kabupaten/kota memiliki angkutan umum yang berkeselamatan, aman, nyaman, dan terjangkau bagi semua warga," ujarnya. Menurutnya, bila tersedia layanan angkutan umum yang berkeselamatan, aman, nyaman, dan terjangkau, maka masyarakat tidak akan panik bila harga BBM naik. BBM sebaiknya difokuskan untuk angkutan jarak jauh (AKAP dan AKDP) serta angkutan logistik, sedangkan angkutan perkotaan dapat menggunakan bus listrik. "Saat ini adalah momentum yang terbaik untuk membenahi layanan angkutan umum di semua kota dan daerah, serta kampanye untuk menggunakan angkutan umum di tengah ancaman krisis energi," ujar Darmaningtyas. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang