Transportasi masih menjadi salah satu sektor yang paling banyak dikeluhkan masyarakat saat mudik Lebaran 2025. Keluhan tersebut datang dari berbagai moda, mulai dari udara, darat, hingga laut, yang menunjukkan masih perlunya perbaikan serius menjelang mudik Lebaran 2026, pada Maret mendatang. Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Niti Emiliana, mengatakan bahwa pada 2025 lalu, sektor transportasi masuk dalam jajaran komoditas yang paling banyak diadukan oleh masyarakat. Suasana penumpang di cek tiket pesawat Bandara Internasiona Lombok. “Jadi memang kalau kita berkaca di tahun 2025, sebenarnya komoditas transportasi ini masuk dalam komoditas top 10 yang diadukan oleh masyarakat,” kata Niti di acara Mudik Outlook 2026 yang digelar Kompas TV di Menara Kompas, Jakarta, Selasa (27/01/2026). Menurut dia, tingginya pengaduan tidak lepas dari kebutuhan masyarakat yang sangat bergantung pada layanan transportasi, terutama saat momentum mudik Lebaran. “Karena memang kebutuhan masyarakat untuk mobilitas itu sangat-sangat bergantung dengan adanya jasa-jasa transportasi,” ujarnya. Berdasarkan data pengaduan yang diterima YLKI, moda transportasi udara menjadi yang paling banyak dikeluhkan. Porsinya mencapai lebih dari setengah dari total aduan. Ilustrasi masyarakat di stasiun kereta api. “Kalau kita bagi menjadi komoditas transportasi udara, laut, dan juga darat, yang paling banyak diadukan itu adalah yang jasa penerbangan, itu 59 persen. Lalu yang kedua ada di darat, yaitu 34 persen, dan laut itu sekitar 7 persen,” jelas Niti. Ia menuturkan, keluhan terhadap transportasi udara umumnya berkaitan dengan masalah ketepatan waktu penerbangan. Keterlambatan atau delay menjadi persoalan yang paling sering dirasakan konsumen. “Nah, kenapa yang udara ini lebih banyak untuk diadukan? Karena memang masyarakat itu merasa lebih banyak terkait dengan permasalahan jam keberangkatan atau delay, gitu ya,” kata dia. Tak hanya soal jadwal, persoalan lain muncul ketika terjadi gangguan sistem atau operasional maskapai. Informasi perubahan sering kali disampaikan secara mendadak kepada penumpang. Ilustrasi bus AKAP di terminal bus terpadu Pulogebang “Mungkin konsumen itu kalau seandainya ada sistem yang bermasalah ataupun secara operasional itu seringkali diinformasikannya secara mendadak, gitu ya,” lanjut Niti. Selain itu, proses pengembalian dana atau refund juga masih menjadi pekerjaan rumah. Banyak konsumen merasa kesulitan ketika harus mengurus pengembalian tiket. “Bahkan ketika mau untuk melakukan refund pun, itu masuk dalam kategori cukup sulit untuk adanya sistematika pembayaran refund, gitu ya,” ujarnya. Keluhan juga diperparah oleh harga tiket yang melonjak tinggi saat momen hari besar seperti Lebaran. Kondisi ini dinilai cukup memberatkan masyarakat. KM Dharma Kartika IX sandar di Pelabuhan Semayang, Selasa (27/1/2026). Kapal sempat mengalami miring dan menyebabkan tiga penumpang tewas terhimpit kendaraan dan muatan di dek kendaraan. “Dan juga harga-harga tiket yang sekiranya agak tinggi ketika hari-hari besar ini cukup dirasakan,” kata Niti. Melihat berbagai persoalan tersebut, YLKI berharap penyelenggaraan mudik Lebaran 2026 bisa berjalan lebih baik. Pemerintah dan pelaku usaha transportasi diharapkan menghadirkan solusi konkret untuk memudahkan masyarakat. “Jadi memang harapannya ada stimulus, ya bapak-bapak, atau mungkin program-program mudik gratis yang sekiranya bisa untuk mempermudahkan masyarakat,” tutup Niti. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang