- Euforia mudik Idul Fitri 1447 Hijriah mulai terasa di berbagai daerah. Meski hasil survei Badan Kebijakan Transportasi (BKT) Kementerian Perhubungan mencatat potensi pergerakan masyarakat tahun ini turun tipis menjadi 143,9 juta orang dibandingkan tahun sebelumnya, jumlah tersebut tetap tergolong sangat besar. Dari total itu, sekitar 95,27 juta orang diperkirakan melakukan perjalanan untuk merayakan Lebaran di kampung halaman. Namun, persoalan klasik kembali mencuat yang mana mayoritas pemudik masih mengandalkan Tol Trans-Jawa sebagai jalur utama. Data BKT 2026 menunjukkan sebanyak 52,98 persen pemudik memilih menggunakan mobil pribadi. Dari angka tersebut, 66,40 persen atau sekitar 50,63 juta orang berencana melintas melalui jalan tol. Pengamat Transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, mengingatkan bahwa tanpa pembenahan jalur arteri, pemerintah berisiko hanya memindahkan titik kemacetan dari jalan biasa ke jalan tol. Melansir Kompas.com, menurut Djoko fokus tidak boleh hanya pada penambahan ruas tol baru. Tahun ini memang terdapat tambahan jalur fungsional sepanjang 120,76 kilometer, termasuk Tol Japek II Selatan dan Tol Probolinggo-Banyuwangi. Namun pengalaman sebelumnya menunjukkan, pembangunan tol baru kerap memicu induced demand, yakni meningkatnya penggunaan kendaraan pribadi seiring bertambahnya infrastruktur. Melansir Kompas.com, Djoko menyebut ruas Tol Jakarta–Cikampek masih menjadi titik paling rawan kepadatan dengan beban kendaraan mencapai 16,30 persen, disusul Jalan Layang MBZ dan Tol Dalam Kota. Anggapan bahwa tol selalu lebih cepat pun dinilai sering berujung sebaliknya. Rest area yang dirancang untuk kondisi normal kerap kewalahan saat arus mudik memuncak, bahkan memicu parkir darurat di bahu jalan yang berisiko tinggi. Karena itu, solusi kemacetan Lebaran 2026 dinilai bukan sekadar menambah ruas tol, melainkan meningkatkan kualitas dan keamanan jalan arteri agar layak menjadi alternatif. Jalur Pantura maupun Jalur Pansel sebenarnya berpotensi menjadi pilihan rasional jika didukung penerangan memadai, rambu yang konsisten, serta penertiban pasar tumpah. Keberadaan Tol Cisumdawu memang membantu mengurangi beban Cipali dan Cipularang. Namun tanpa konektivitas utara-selatan yang optimal, seperti penyelesaian Tol Bocimi dan Cigatas, jalur arteri tetap memegang peranan penting. Djoko juga mengingatkan pentingnya aspek keselamatan, mengacu pada tragedi KM 58 pada 2024 yang menewaskan 12 orang akibat kecelakaan di jalur contraflow. Ia menilai pembatas jalan perlu dipasang lebih rapat, dari sebelumnya berjarak 30 meter menjadi 10 meter, guna meminimalkan risiko kecelakaan. Selain itu, kebijakan one way perlu dievaluasi secara objektif agar tidak menghambat operasional bus antarkota yang harus kembali ke Jakarta untuk mengangkut gelombang pemudik berikutnya. Pasalnya, sekitar 23,34 juta orang mengandalkan moda bus untuk perjalanan mudik mereka.