Perjalanan mudik di Pulau Jawa ada banyak pilihan jalan atau rute, yang paling umum adalah lewat jalan tol dan jalur Pantura. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Di pesisir utara Jawa sendiri sudah membentang jalan tol yang menghubungkan kota-kota dari Serang sampai Surabaya. Hal ini membuat waktu tempuh lebih pendek karena lalu lintas cenderung lancar. Meski demikian, masih terdapat pilihan kedua yakni Jalur Pantura, jalan nasional yang menghubungkan lima provinsi di Pulau Jawa. Jalur ini kerap dijadikan alternatif untuk menghemat biaya atau ketika terjadi kepadatan lalu lintas di jalan tol. Marcell Kurniawan, Training Director Real Driving Centre (RDC) mengatakan perjalanan mudik menggunakan jalan tol memiliki sejumlah kelebihan dan kekurangan. “Jalan tol kondisinya cenderung lebih mulus, memiliki marka jelas, dan minim rintangan seperti traffic light, pedestrian, pedagang asongan dan aktivitas masyarakat lainnya, sehingga perjalanan jadi lebih cepat dan terukur,” ucap Marcell kepada KOMPAS.com, Selasa (3/3/2026). Tapi, jalan tol memiliki sejumlah kekurangan seperti jumlah rest area yang terbatas dan cenderung penuh pengujung, hal ini bisa membuat perjalanan kurang nyaman. Kondisi pengguna jalan tol Gempol-Pasuruan masih tampak ramai hingga akhir Libur Nataru “Selain itu, biaya perjalanan lebih mahal karena kena tarif tol, dan suasana berkendara cenderung monoton yang berpotensi membuat pengemudi kena microsleep,” ucap Marcell. Sementara bila pemudik memilih jalur Pantura, maka akan menjumpai banyak rest area, dan bisa berhenti di mana pun yang memungkinkan. Jalur ini lebih cocok dilalui bila masyarakat hendak menikmati setiap perjalanan. “Lewat Pantura bisa sekalian wisata kuliner, karena ada banyak pilihan rest area, kita bisa bebas memilih sesuai selera dan kebutuhan,” ucap Marcell. Yadi menggunakan motor listrik melintasi jalan raya Pantura Cirebon - Kuningan menuju tempat dia mengabdi di SMPN 12 Kota Cirebon, pada Senin (20/10/2025) pagi Selain itu, lewat jalur Pantura bisa lebih hemat karena tak tak dikenakan tarif. Pemudik hanya perlu memikirkan isi bensin selama perjalanan. “Jalur Pantura lebih fleksibel untuk mencari jalan alternatif bila kondisi lalu lintas macet, tapi bisa ada banyak rintangan seperti masyarakat lokal, keberadaan kendaraan berat, pemotor, kadang juga kurang safety,” ucap Marcell. Jalur Pantura cenderung tidak mulus atau banyak lubang, karena jalan banyak dilalui oleh truk-truk besar. Sehingga, lalu lintas cenderung terhambat dan waktu tempuh bisa lebih lama atau tak terukur. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang