Mengganti pelek standar dengan ukuran lebih besar sudah lama menjadi cara favorit pemilik mobil untuk meningkatkan tampilan. Secara visual, pelek besar memang membuat mobil terlihat lebih sporty, penuh, dan elegan. Namun di balik gaya yang meningkat, ada sejumlah konsekuensi teknis yang perlu dipahami sebelum memutuskan upgrade. Alasan utama banyak orang mengganti pelek adalah faktor estetika. Diameter pelek yang besar membuat bagian roda lebih menonjol dan proporsional, terutama jika ban dibuat lebih tipis (profil rendah). Ilustrasi pelek SSW Menggunakan pelek besar biasanya diikuti dengan penggunaan ban berprofil rendah. Ban jenis ini memiliki dinding yang lebih pendek sehingga respons setir terasa lebih tajam dan minim gejala body roll. Grip permukaan jalan pun bisa meningkat, terutama saat bermanuver pada kecepatan menengah. Tak heran banyak yang berminat mengganti pelek bawaan mobil. “Biasanya saya sarankan naik 2–3 inci dari standar untuk mobil standar. Secara tampilan memang lebih bagus, tapi akan mengurangi kenyamanan,” ujar Stevanus KT, National Sales Manager PT Stamford Tyres Distributor Indonesia, kepada Kompas.com (18/11/2025). Ilustrasi pelek mobil “Ibarat ibu-ibu memakai high heels, terlihat lebih enak, tapi tidak senyaman sepatu datar. Naik 2–3 inci masih kompromi terbaik antara estetika dan kenyamanan,” kata dia. Untuk mobil yang memerlukan peningkatan performa pengereman, pelek besar memberi ruang tambahan untuk memasang cakram dan kaliper berukuran lebih besar. Ban berprofil rendah punya bantalan yang lebih tipis. Dampaknya, guncangan dari jalan rusak atau polisi tidur lebih terasa ke kabin. Pada beberapa mobil, perubahan ini cukup signifikan dan membuat perjalanan terasa lebih keras. Daihatsu Xenia milik Raden Semakin besar pelek, semakin tipis bannya. Akibatnya, risiko pelek penyok saat menghantam lubang semakin tinggi. “Kenyamanan pasti berkurang jika profil ban terlalu tipis. Kalau ingin lebih proper, boleh ganti sokbreker aftermarket. Namun kalau masih pakai sokbreker standar, asal tidak ekstrem, tidak masalah,” ucap Stevanus. Pelek besar cenderung lebih berat dari standar. Bobot tambahan ini meningkatkan rotating mass sehingga akselerasi mobil menjadi lebih lambat, terutama pada mobil bermesin kecil. Konsumsi BBM pun bisa meningkat. Kaliper di keempat cakram mobil Xiaomi SU7 Ultra berwarna kuning ini senada dengan warna bodi-nya. Warna ini kontras dengan velg gelap yang membuat kaliper tampak lebih menyala. Mobil listrik Xiaomi ini dipamerkan di MWC 2025 Barcelona, 3-6 Maret 2025. Selain itu, mengubah diameter total roda (pelek + ban) dapat membuat pembacaan spidometer meleset. Jika diameter keseluruhan lebih besar, spidometer bisa menunjukkan angka lebih rendah dari kecepatan asli. Jika ukuran terlalu besar, roda bisa bersinggungan dengan inner fender atau komponen suspensi. Hal ini tidak hanya merusak komponen, tapi juga berbahaya saat mobil bermanuver. Mengganti pelek dengan ukuran lebih besar memang menawarkan peningkatan estetika dan sedikit peningkatan handling, tetapi diikuti sejumlah kompromi soal kenyamanan, durabilitas, hingga performa. Idealnya, peningkatan diameter tidak lebih dari 1–2 inci dari ukuran standar, dengan tetap memperhatikan profil ban agar diameter total roda tidak berubah drastis. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.