Berkendara di tengah musim hujan menuntut kewaspadaan ekstra. Bukan hanya soal jarak pandang, tetapi juga kondisi aspal yang banyak berlubang dan tertutup genangan air. Hantaman keras pada lubang seringkali berujung kerusakan pada bagian kaki-kaki, khususnya pelek yang menjadi peang atau penyok. Untuk meminimalisir risiko ini, ternyata ada trik sederhana yang berkaitan dengan tekanan udara di dalam ban. Aam, pemilik bengkel spesialis perbaikan kaki-kaki Bintang Jaya Press Pelek di Bogor, menyarankan para pemilik motor untuk beralih menggunakan nitrogen ketimbang angin biasa (kompresor). Seorang petugas outlet pengisian ban dengan nitrogen di salah satu SPBU Pertamina di Jalan Margonda, Depok sedang melayani pelanggan pada Kamis (8/2/2018). "Rekomendasinya memang harus pakai nitrogen," ujar Aam kepada Kompas.com belum lama ini. Menurut Aam, perbedaan mendasar antara angin biasa dan nitrogen terletak pada stabilitas massanya. Angin biasa cenderung lebih terpengaruh oleh perubahan cuaca ekstrem yang sering terjadi saat ini. "Nitrogen kan gas ya. Kalau angin (biasa) kan padat, musim hujan saat dingin mengempis, panas nambah (memuai). Kalau nitrogen dia tetap (stabil)," kata Aam. Stabilitas ini krusial karena pelek penyok biasanya terjadi saat ban kekurangan tekanan udara. Ketika menghantam lubang dengan kondisi ban kurang angin, pelek akan langsung menerima benturan keras dari benda tajam atau bibir lubang tanpa ada redaman maksimal dari ban. Selain menjaga stabilitas tekanan, nitrogen juga memiliki molekul yang lebih besar sehingga tidak mudah keluar dari pori-pori ban. "Saya pernah coba isi ban dalam pakai nitrogen, ditinggal di rumah delapan bulan, enggak berkurang-berkurang," tuturnya. Keuntungan lain yang bisa dirasakan pengendara adalah soal performa berkendara. Penggunaan nitrogen diklaim memberikan efek handling yang lebih nyaman karena bobotnya yang lebih ringan dibandingkan oksigen pada angin biasa. "Enteng, ringan. Ban kalau diisi nitrogen asli, pelek yang berat jadi terasa lebih ringan," kata Aam. Dengan tekanan yang terjaga secara konsisten, risiko pelek menghantam lubang dalam kondisi "kurang angin" bisa ditekan, sehingga potensi kerusakan pada bibir pelek dapat diminimalisir. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang