Penggunaan pelek aftermarket kini makin beragam, bukan hanya soal desain tetapi juga teknologi pembuatannya. Salah satu yang sering dibicarakan adalah pelek flow forming. Stevanus KT, National Sales Manager PT Stamford Tyres Distributor Indonesia (SSW Indonesia), menjelaskan bahwa secara dasar pelek dibuat melalui proses casting. “Pelek itu ada proses produksinya yang kita kenal itu casting. Casting itu ada 2 macam sebenarnya, kita cuma tahu casting doang. Kami SSW ada 2 macam casting, yaitu gravity sama low pressure casting. Itu produk sebenarnya nyetak biasa, tapi cara pembuatannya beda,” ujar Stevanus, kepada Kompas.com (20/2/2026). Ilustrasi pelek mobil “Gravity casting namanya mengandalkan gravitasi bumi, ibaratnya nyetak kue itu dari atas ke bawah sampai wadahnya terisi penuh. Tapi kalau low pressure kita gunakan injeksi bertekanan rendah,” kata dia. Menurut Stevanus, masing-masing metode punya kelebihan dan kekurangan. Gravity casting secara umum lebih murah tapi life cycle-nya lebih sedikit. Kalau low pressure penggunaan mold-nya bisa lebih panjang, lebih long term, tapi mold-nya jauh lebih mahal. “Jadi kalau low pressure bisa nyetak sampai mold-nya rusak, misalnya 10.000 piece baru rusak, kalau gravity mungkin 5.000 piece misalnya. Lalu, di atas casting ada teknologi yang lebih tinggi, yakni flow forming. Flow forming adalah jenis pelek mobil yang diproduksi dengan teknik campuran antara pengecoran (casting) dan penempaan (forging), di mana material diputar, dipanaskan, dan ditekan. Proses ini menghasilkan pelek yang lebih ringan, lebih kuat, dan memiliki kebulatan (99 persen) lebih tinggi dibandingkan pelek casting konvensional. “Step satu yang lebih tinggi itu flow forming, bahasanya ada yang sebutnya flow force,” ucap Stevanus. Paket pelek mobil yang dipadukan dengan ban GT Radial di GIIAS 2025. “Ada macam-macam lah bahasanya. Itu sebenarnya pengembangan dari casting. Dia dibuat cetaknya lebarnya masih belum maksimal, nanti dia akan dimasukkan ke spinner kayak kita buat guci,” katanya. Di sinilah keunggulan utama flow forming terlihat. Selain biaya produksi lebih terjangkau, bobotnya lebih ringan dibandingkan casting biasa. Hal ini karena material yang digunakan lebih sedikit, tapi prosesnya memanfaatkan teknologi pembentukan lanjutan. Paket pelek mobil yang dipadukan dengan ban GT Radial di GIIAS 2025. Pelek yang lebih ringan tentu berdampak pada handling yang lebih responsif serta potensi efisiensi bahan bakar yang lebih baik. “Kalau flow forming otomatis bobotnya lebih ringan dibanding casting karena penggunaan bahannya lebih sedikit, sama dia menggunakan teknologi yang lebih tinggi kan. Tapi harganya pasti di atas casting,” ujar Stevanus. Namun, teknologi tinggi ini juga menyimpan tantangan. Proses produksi harus benar-benar presisi dan kendali kualitas (QC) wajib ketat. Jika tidak, risikonya bisa lebih besar dibanding pelek casting konvensional. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang