— Jenis material pelek mobil memiliki peran besar dalam menentukan karakter kendaraan, mulai dari bobot, kekuatan, hingga rasa berkendara. Tidak semua pelek dibuat dengan metode yang sama. Ada yang dicetak secara konvensional, ada yang diproses ulang agar lebih kuat, dan ada juga yang ditempa dari bahan solid untuk mendapatkan kualitas terbaik. Christian, dari Aurora Wheels Gallery di MGK Kemayoran, Jakarta, menjelaskan bahwa perbedaan material ini berasal dari proses produksinya. “Beda-beda, ada pelek casting, flow forming, sama forged. Awalnya ya casting, cetak biasa. Casting, flow forming, sama forged,” ujar Christian, yang ditemui Kompas.com di Jakarta, Kamis (14/11/2025). Toko pelek Aurora Wheels Galery di MGK Kemayoran Dari sinilah perbedaan kualitas dan harga mulai terlihat karena setiap proses memberi karakter yang berbeda pada pelek. Menurut Christian, pelek casting paling murah karena prosesnya paling sederhana, sedangkan pelek forged paling mahal sebab merupakan yang paling premium. “Paling mahal forged. Kalau forged itu bahannya langsung ditempa jadi, langsung dibentuk jadi pelek,” katanya. Untuk pelek casting, proses pembuatannya dilakukan dengan metode cetak. Jenis ini terbagi menjadi dua, yaitu gravity casting dan low pressure casting. Materialnya dilelehkan terlebih dahulu, kemudian dituang ke dalam cetakan yang sudah dibentuk. Metode ini banyak digunakan karena biayanya lebih terjangkau dan desainnya fleksibel. Flow forming pada dasarnya masih menggunakan konsep casting. Bedanya, setelah pelek dicetak, material dipanaskan kembali pada suhu tertentu, lalu sebagian struktur peleknya dilelehkan dan diregangkan menggunakan rol khusus. Paket pelek mobil yang dipadukan dengan ban GT Radial di GIIAS 2025. Proses tambahan ini membuat kepadatan material lebih baik dan kekuatannya meningkat dibanding pelek casting biasa. Pelek forged dibuat dengan teknologi yang jauh lebih kompleks. Tidak ada proses melelehkan material seperti pada casting. Pelek forged dibuat dari aluminium padat (billet) yang dimasukkan ke mesin, kemudian dipanaskan dan ditempa dengan tekanan sangat tinggi hingga membentuk pelek. Proses tempa ini menghasilkan struktur material yang lebih rapat, solid, dan kuat, sehingga forged menjadi pilihan utama untuk performa tinggi. Di luar tiga material utama tersebut, ada dua jenis lain yang digunakan untuk kebutuhan lebih ekstrem, yakni magnesium alloy dan carbon fiber atau serat karbon. Paket pelek mobil yang dipadukan dengan ban GT Radial di GIIAS 2025. Pelek magnesium sudah lama dipakai di dunia balap karena bobotnya sangat ringan serta memberikan respons suspensi lebih cepat. Sementara itu, pelek serat karbon menawarkan bobot ultra ringan dan kekakuan tinggi, sehingga mampu memangkas unsprung weight secara signifikan dan meningkatkan performa kendaraan. Namun, kedua material ini jarang digunakan pada mobil harian karena harga dan karakter materialnya yang sangat khusus. Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.