Seiring perkembangan teknologi, penggunaan aki berbasis lithium mulai diminati pemilik kendaraan, khususnya sepeda motor, karena dinilai lebih awet dibanding aki konvensional. Selain memiliki usia pakai lebih panjang, aki lithium juga diklaim mampu meningkatkan efisiensi energi dibanding aki berbasis timbal (lead acid). Hal ini membuat penggunaannya lebih praktis dalam aktivitas harian serta berpotensi lebih hemat dalam jangka panjang. “Umurnya bisa di atas lima tahun. Kalau aki konvensional biasanya hanya sekitar satu sampai satu setengah tahun,” ujar Head of Business Development PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA), Eko Maryanto, di JIExpo Kemayoran, Jakarta, belum lama ini. Baterai aki lithium Tak hanya soal daya tahan, aki lithium juga disebut dapat berkontribusi pada efisiensi konsumsi bahan bakar pada kendaraan bermesin konvensional. “Konsumsi BBM bisa lebih irit sekitar 5 persen karena kiprok (rectifier regulator) bekerja lebih jarang. Saat aki sudah penuh, pengisian otomatis berhenti,” kata Eko. Dari sisi pengisian daya, aki lithium juga memiliki keunggulan karena waktu pengisian yang lebih singkat. “Kalau lithium, pengisian hanya sekitar dua jam. Sementara aki konvensional bisa sampai sembilan atau 10 jam,” ujarnya. Menurut Eko, kemampuan menyimpan dan menyalurkan energi secara cepat membuat aki lithium mampu memberikan suplai daya yang lebih stabil ke sistem kendaraan. “Energi yang disimpan lebih besar, dan saat dibutuhkan oleh powertrain, suplai dayanya lebih optimal,” kata Eko. Aki motor diukur dengan avometer Ia menambahkan, keunggulan tersebut juga terasa pada penggunaan di lintasan balap. “Dengan skill yang sama, kendaraan yang memakai aki lithium biasanya lebih unggul karena tenaganya meningkat dan konsumsi bensin lebih efisien,” ujarnya. Dari sisi ketahanan saat kendaraan jarang digunakan, aki lithium juga dinilai lebih unggul. “Kalau aki biasa, motor yang tidak dipakai dua atau tiga bulan bisa mogok. Kalau lithium, meski tidak digunakan sampai setahun, masih aman,” kata Eko. Ia menjelaskan, tingkat penurunan daya pada aki lithium relatif kecil. “Dalam setahun, penurunannya sekitar 5 sampai 10 persen. Kami pernah uji di mobil yang tidak dipakai setahun, daya hanya turun sekitar 7 persen,” ujarnya. Perbedaan tersebut, menurut Eko, dipengaruhi oleh karakter material baterai. Demonstrasi penggunaan alat pengukur tegangan aki motor “Lead acid menggunakan cairan elektrolit sehingga lebih cepat terdegradasi. Sementara lithium berbentuk padat, sehingga penurunan energinya lebih kecil,” kata dia. Meski memiliki banyak keunggulan, aki lithium juga memiliki kekurangan, terutama dari sisi harga yang relatif lebih mahal dan pengisian daya yang khusus dibanding aki konvensional. “Soal harga, saat ini masih sekitar 20 sampai 30 persen lebih mahal,” ucap Eko. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang